
Anna Althafunnisa saat Bedah Buku Menari Bersama Ombak
Sekalipun cinta telah kuuraikan dan kujelaskan panjang lebar.
Namun jika cinta kudatangi aku jadi malu pada keteranganku sendiri.
Meskipun lidahku telah mampu menguraikan dengan terang.
Namun tanpa lidah, cinta ternyata lebih terang
Sementara pena begitu tergesa-gesa menuliskannya.
Kata-kata pecah berkeping-keping begitu sampai kepada cinta.
Dalam menguraikan cinta, akal terbaring tak berdaya.
Bagaikan keledai terbaring dalam lumpur,
Cita sendirilah yang menerangkan cinta dan percintaan.
———————————————————————————————
*Petikan puisi Rumi dalam Diwan Shamsi Tabriz diterjemahkan oleh Abdul Hadi W.M
Sumber : Novel Ketika Cinta Bertasbih 2 halaman 69, cetakan ke-1, Nopember 2007



dalem banget puisinya.,
wah saya belum dan tidak berniat nonton KCB, jadi mending liat trailernya saja
HHmm….Sugooooiiii,…….
hello
thank you
very good
q ska bnget ma puisi tu nd q slalu m_bca’na b_ulang” d_nvel KCB. . . . .
d_nvel KCB jg q dpet bnyak plajaran bgmna jd orng yg sbar. .
subhanallah………
q suka bngt ma ni novel good….
subhanallah… aku smpat menitikan air mata saat menonton film ini. ceritanya menggambarkan diri saya. saya ini mahasiswa yang sambila jualan buku, ngajar ngajidan alhamdulillah bisa mandiri tanpa bantuan orang tua….. saat ini saya sedang jatuh cinta sama perempuan yang alimah yang mirip dengan anna althfunnisa… sungguh film ini menghentakan hatiku….. allahuakbar
subhanallah begitu indahnya…..
hanya itu yang bisa ana sampaikan.