Balas Dendam

13 02 2007

Syndrom liburan… kalu di rumah pengen di kampus, tapi kalu di kampus dan kuliah pengen cepat-cepat liburan di rumah, itu menjadi hal biasa bagi aku (dan mungkin mahasiswa perantau lainnya)

Terlebih liburan semester 5 ini, waktu liburan di rumah aktivitasnya adalah tidur, makan, nonton tv, maen2… tapi kali ini berbeda, kehadiran 2 keponakanku yang lahirnya hampir bersamaan membuatku mengurangi aktivitasku itu.

Salah satu keponakanku namanya Ivan, panggilan sayangnya Papan

Umurnya baru 3-4 bulan, cowok, hiperaktif dan tipe-tipe playboy (suka banget lagu Pencinta Wanita-nya Irwansayah)

Suatu pagi yang mendung

“San, tolong jaga Papan sebentar ya? Aku mau beli susu buat dia di Pasar” kata Ibu Papan

“Yup, mana..” aku ambil Papan, kugendong

“Kalau nangis, buatkan susu, susunya di dapur” lanjut Ibu Papan

Aku membawa Papan ke kamarku, meletakkan dia, bermaksud ngajak dia bercanda (mana mungkin ya?)

Ternyata Papan belum mengerti bahasa manusia dewasa, mangkanya ketika dia aku ajak guyonan, dia nangis, tapi ketika aku play nada dering ponselku Pencinta Wanita-nya Irwansyah, dia diam

“Gue banget..” mungkin itu yang dikatakan Papan

setelah lagunya usai, Papan-pun nangis lagi

kuangkat dia tinggi-tinggi (biasanya kalu digituin mesti tertawa), dia agak diam, kuangkat lagi beberapa kali, tapi Oops, tiba-tiba…

air liurnya menetes…

“Sial” gumamku

“syukul, kapok, hehehe…” (sekali lagi) mungkin itu yang dikatakan Papan

Dia kuletakkan di kasur, tak kuletakkan dia di pinggir, coz kalau jatuh ntar berabe urusannya, untuk menghindari hal itu, kuletakkan bantal guling untuk melindungi dia supaya tidak jatuh

Lalu aku ke dapur, membuatkan dia susu

“Brukk…!!!” suara benda terjatuh

Aku teringat pada Papan, kusamperin dia di kamar

Kulihat hanya bantal yang jatuh, Papan justru bermain ponselku

“Sial” gumamku lagi

“1 olang teltipu lagi…” (sekali lagi) mungkin itu yang dikatakan Papan

Aku bermaksud balas dendam (kejam bange sih aku) pada Papan, kucelupkan telunjukku di gula, dan jari tengah di garam

Kumasukkan telunjukku ke mulut Papan

Dia keenakan, dikelamutinya telunjukku

Belom habis, kuganti, kumasukkan jari tengahku ke mulut Papan

Papan menangis, keras dan kencang

5 menit tak bisa diam, kuberusaha menenangkannya sebelum ibunya datang, apa yang harus aku lakukan?

Papan sakit selama 3 hari, mencret, aku pura-pura tidah tau, kata dokter pada Ibu Papan, “salah makan”

“Untung, aku selamat…”


Aksi

Information

Balas Komentar Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: