Hukuman

25 09 2008

Cerita  ini diambil dari buku “ Setengah Isi Setengah Kosong ( Half Full – Half Empty )” Kisah-kisah Inspiratif Sarat Hikmah untuk Bisnis dan Karier. Penulis Parlindungan Marpaung “ The Inspiring Trainer”

Dikisahkan sepasang suami istri yang bekerja meninggalkan anaknya yang berusia 3 tahun bernama Ita, bersama sang pembantu di rumah. Namanya juga anak-anak yang suka mengeksplorasi diri, Ita pun demikian. Sambil bermain dia mencoret-coret tanah di halaman dengan lidi, sementara pembantunya menjemur kain  dekat garasi. Puas dengan mencoret tanah, ia menemukan sebuah paku berkarat dan mulai mencoba  untuk menggores-gores mobil ayahnya yang berwarna hitam. Karena masih baru, mobil tersebut jarang dipergunakan oleh ayahnya ke kantor. Maka, penuhlah mobil tersebut dengan coretan gambar Ita.

Begitu ayahnya pulang, dengan bangga Ita memberi tahu tentang gambar-gambar yang telah dibuat di mobil baru ayahnya tersebut. Bukan pujian yang diterimanya, melainkan kemarahan yang sangat besar. Pertama kali yang kena damprat adalah sang pembantu karena dianggap tidak mengawasi Ita di rumah. Baru giliran anaknya yang dihukum. Demi mendisiplinkan anak, maka si ayah mulai mengajarkan anaknya, tidak hanya dengan kata-kata, tetapi dengan pukulan. Dipukullan kedua telapak tangan dan punggung tangan anaknya dengan apa saja yang ditemukan di situ. Mulai dengan mistar, ranting, sampai lidi disertai dengan luapan emosi yang  tidak terkendali.

Ampun, Bah! Sakit…sakit,ampun!” jerit Ita sambil menahan sakit di tangannya yang sudah mulai berdarah-darah. Si ibu hanya diam saja, seolah-olah merestui tindakan disiplin yang ditegakkan oleh suaminya.

Puas menghajar anaknya, si ayah menyuruh si pembantu untuk membawa Ita ke kamarnya. Dengan hati yang teriris, sang pembantu membawa Ita ke kamarnya. Sore hari ketika dimandikan, Ita menjerit-jerit menahan pedih. Esoknya tangan Ita mulai membengkak, sementara ayah ibunya tetap bekerja seperti biasa. Ketika dilaporkan oleh pembantunya, ibu Ita hanya mengatakan, ”Oleskan obat saja!

Hari berganti hari, hingga suhu badan Ita mulai panas karena luka tangannya sudah terinfeksi. Ketika dilaporkan, orangtuanya pun hanya mengatakan supaya diberi obat penurun panas. Hingga suatu malam, panasnya semakin tinggi, bahkan Ita mulai mengigau. Buru-buru mereka membawa Ita yang sudah tampak melemahke rumah sakit pada malam itu juga.

Hasil dignosis dokter menyimpulkan bahwa demam Ita berasal dari tangannya yang terinfeksi  dan busuk akibat luka-lukanya. Setelah seminggu diopaname di sana, dokter memanggil ayah dan ibunya dan mengatakan, ”Tidak ada pilihan lain….

Dokter mengusulkan agar kedua tangan anak itu diamputasi karena infeksi yang terjadi sudah terlalu parah. ”Ini sudah bernanah dan membusuk, untuk menyelamatkan nyawa Ita, tangannya harus diamputasi!

Mendengar berita ini, orangtua Ita bagai disambar petir. Dengan airmata berurai dan tangan bergetar, mereka menandatangani surat persetujuan amputasi anak yang paling dikasihinya.

Setelah sadar dari pembiusan operasinya, Ita terbangun sambil menahan rasa sakit dan bingung melihat tangannya yang dibalut kain putih. Lebih kaget lagi, dia melihat kedua orang tuanya dan pembantunya menangis di sampingnya. Sambil menahan rasa sakit, Ita berkata kepada orangtuanya, “ Abah…mama, Ita tidak akan melakukan itu lagi…Ita sayang Abah, sayang mama, juga sayang Bibi. Ita minta ampun sudah mencoret-coret mobil Abah!” Si ibu dan ayah semakin menangis mendengar kata-kata Ita tersebut.

Bah, sekarang kembalikan tangan Ita, untuk apa diambil. Ita janji tidak akan melakukannya lagi. Bagaimana kalau nanti Ita mau main dengan teman-teman karena tangan Ita sudah diambil. Abah….Mama, tolong kembaliin, pinjam sebentar saja. Ita mau menyalami Abah, Mama, dan Bibi untuk minta maaf!

Menyesal kedua orangtua Ita sudah tiada guna, nasi sudah menjadi bubur.


Aksi

Information

2 responses

26 09 2008
maya putri

iia… iia… pernah diceritain… hmmm… kekerasan terhadap anak-anak… hanya demi sebuah mobil?

mobil catnya tergores bisa di cat lagi.. lah, tangan ilang mo transplantasi anggota tubuh? ck ck ck…

27 07 2009
jidah

cerita yg sangat menyentuh…
menyelami dunia anak, kita akan tahu betapa baik dan tulusnya mereka… bahkan seandainya kita kehilangan makna tulus itu, carilah dari pendar mata anak….
sinarnya tidak kalah dari kerlip bintang….
tapi sinar itu bisa dan sering diredupkan oleh hardikan orang-orang di sekeliling mereka……
jiwa anak itu sangat suci….. dan kerlip bintang itu penuh dengan energi….
jangan sirnakan dengan egoisme kita…..
(P.S. untuk lebih menghayati simak film taare zamein paar..[very kids is special])

Balas Komentar Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: