Sebuah Cerita di Minggu Tenang

23 12 2008

Adakah kau mengerti Kasih
Rindu hati ini
Tanpa kau disisi
Mungkin kah kau percaya Kasih
Bahwa diri ini
Ingin memiliki lagi

Dua minggu ini di kampus terjadwal sebagai minggu tenang menjelang UAS, yang artinya tak ada aktivitas pekuliahan. Banyak mahasiswa yang menggunakan kesempatan ini untuk pulang kampung, tapi aku tidak! Aku harus konsen ke TA ku yang makin memusingkan, hehee… Minggu ini saya coba mengapply alias melamar kerja di DheZign Online Solution, smoga di terima, mohon doanya…🙂 ya walaupun melamar pekerjaan parttime alias freelance, tapi mudah2an bisa membawa ke kehidupan mandiri🙂 Setelah melewati 3 hari tenang pertama, ada bagian yang benar-benar bikin tenang..

jalan-kaki

Menuju pengharapan

Hari ini [23-12] setelah maghrib buat mengusir kesepian, berangkatlah diriku ke lab. Di tengah perjalanan di kawasan Perumdos ITS ada bapak-bapak memanggilku..

Nak, kalau lurus ke arah terus itu tiba dimana” tanya Bapak itu kebingungan

Oh, disana ada pertigaan, notok ada Sakinah Swalayan” paparku

Sakinah Swalayan itu daerah mana” tanya Bapaknya lagi yang makin kelihatan kebingungan

Keputih, Pak.. memang Bapak mau kemana?” kini ganti aku yang bertanya…

Ke Bratang, Nak.. kalau ke Bratang itu ke arah mana?“jawab Bapak memastikan arah tujuannya

Bapak ke Sakinah dulu saja, trus naik angkot S, dan turun di Bratang” aku menunjuk Sakinah Swalayan yang jelas kelihatan dari posisi aku berdiri

Oh gak usah, Nak.. sedino iki aku mlampah kok, Bapak mlampah ae ora opo-opo <Tidak usah Nak, seharian ini saya jalan kok, Bapak jalan aja ke Bratang gak apa-apa> kata Bapaknya dengan mata berkaca-kaca

Cess! seketika itu bulu kudukku merinding.. membayangkan Bapak yang sudah tua berjalan seharian ini, dan ditambah jalan lagi ke Bratang. Padahal jarak dari kawasan Kampus ITS ke Bratang bisa dibilang jauh, bahkan sangat jauuuh… aku membayangkan kalau Bapak itu akhirnya jalan beneran ke Bratang, akan sampai jam berapa nantinya?

Aku tak mikir apa-apa waktu itu, aku hanya bisa terdiam beberapa saat. Reflek diriku mengeluarkan dompet, Bapak itu aku kasih sedikit bekal yang rasanya mungkin tak cukup mengganti rasa lelahnya seharian ini.

Bapak nanti jalan saja lurus, trus Bapak naik angkot S ya? turun di Bratang langsung” Kataku ramah🙂

Gak, Nak.. gak usah repot-repot begini.. aku gak mau merepoti kamu, Nak… beneran!” Bapak menolak bantuanku secara halus

Sudah, pak.. gak apa-apa….” Kataku makin iba..

Entah kemana tujuan Bapak itu, entahlah.. aku memang mudah tersentuh dengan hal-hal begini…

ingin ku coba lagi
mengulang yang telah terjadi
tetapi semua sudah tak berarti
kau telah pergi


Aksi

Information

5 responses

24 12 2008
aRuL

Subhanallah bapaknya itu penuh perjuangan…

24 12 2008
mayaputri

hmm, saya sering banget loh menjumpai orang yang ngakunya sudah berjalan jauh, kemudian dengan alasan yang bertele-tele seperti habis dicopet, dompetnya jatuh, tasnya dijambret, dengan muka memelas minta uang yang jumlahnya ditentukan. terkadang udah dikasih, ehh malah bilang kurang. bikin bete bin dongkol..

saya lebih menghargai bapak-bapak di ceritanya hasan tadi, yang meskipun benar-benar susah, tapi bapak itu masih menjaga izzah untuk tidak minta dikasihani orang lain. orang seperti ini lebih layak untuk ditolong tanpa dia harus memintanya.

24 12 2008
bocahajaibh

wah iya iya kasian kalo emang dia beneran jalan ksana ..

25 12 2008
afif_ian

haa? ITS – Bratang jalan kaki. buset dah. mending aku suruh naik bemo tu bapak n aku bayarin sekalian.

2 04 2009
rei_

emankX jauh yak???

Balas Komentar Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: