Permen Bukan Alat Pembayaran yang Sah

3 09 2010

Mungkin hal yang aku alami ini sudah sering dialami oleh rekan-rekan sekalian kalau sedang berbelanja di sebuah pusat perbelanjaan, super market, mini market, swalayan, retail atau apalah namanya…

Aku tak terlalu ingat kapan tepatnya terjadi peristiwa ini, yang jelas saat itu, mini market yang sudah terkenal ini baru launching di daerah rumahku. Sebagai warga ya aku pengen tau dong dan menyempatkan berbelanja di sana.

Setelah cukup berbelanja kebutuhan sehari-hari, roti, snack dan segala macam, aku pun ke kasir dan meletakkan barang belanjaan di meja kasir. Mbak-mbak kasir pun menghitung barang belanjaanku…

ilustrasi

ilustrasi

“Berapa Mbak?,” tanyaku setelah Mbak tersebut menghitung barang belanjaanku.

“Rp 38.200 mas..” jawab Mbak-mbak tersebut.

Aku pun memberi mbak-mbak itu dengan uang Rp 50.000, itu artinya uang kembaliannya Rp 11.800. Setelah memberi kemudian Mbak itu bertanya lagi.

“Ada uang Rp 200 mas?,” tanyanya ramah,

Aku menggerogoh saku depan dan saku belakang celanaku, kosong gak ada uang receh, aku lihat dompet, dan memang waktu itu aku nggak pegang uang receh.

“Nggak ada Mbak,” kataku sambil memperlihatkan dompet yang hanya berisi uang kertas.

Mbaknya pun tak menanggapi, langsung mengetik pada layar di kasir dan membuka loker meja yang berisi uang, dia pun mengeluarkan selembar uang Rp 10.000 dan selembar uang Rp 1000 dari laci itu serta beberapa butir permen…..

permen

permen

“Ini mas ya kembaliannya…..” kata Mbaknya..

“Kok pake permen, Mbak?,” tanyaku agak heran.

Jujur aku mengatakan hal tersebut karena sudah terlalu jengkel dan sering mendapati kasir yang semacam itu. Apalagi ini aku diberi beberapa butir permen senilai Rp 800 rupiah.

Dan ketika kutanya, Mbaknya masih bisa ngeles…

“Ya maaf Mbak, uang recehnya gak ada…” jelas Mbaknya itu dengan raut muka yang berbeda.

“Tapi permen kan bukan buat kembalian, Mbak….” kataku lagi dan memang sengaja ingin berdebat dengan Mbak itu.

“Lha terus gimana mas, beneran gak ada nih, mas bisa lihat sendiri di laci ini, tuh kan gak ada,” jawab Mbaknya sambil memperlihatkan laci yang memang tak ada uang receh.

“Ya lain kali disediakan lah Mbak, karena ada konsumen seperti aku yang tak suka dengan kembalian permen Mbak, ini bukan masalah uangnya lho Mbak,” kataku lagi.

Tiba-tiba ada karyawan lain yang melihat perebatanku dengan mbak kasir tadi, dia nyamperin ke arah kami..

“Ada apa mas, ya?” tanya lelaki itu.

“Ini mas, aku nggak mau uang kembalian permen,” kataku.

“Berapa rupiah sih?” kata masnya…

“Bukan masalah berapa rupiahnya mas, tapi aku nggak mau saja dengan uang kembalian permen, gini aja mas, permennya buat yang lain saja, ini permennya aku kembalikan, maaf mas,”
tutupku dan meletakkan permen tersebut di meja kasir.

Aku pun pergi berlalu, tak enak hati lah, apalagi dibelakangku sudah ada konsumen yang mengantri di kasir. Tapi sejauh ini yang aku alami itu sudah terlalu sering mungkin mengalami kembalian permen.

Mungkin buat sebagian orang fine-fine saja jika mengalami hal itu, tapi kalau bagi aku akan menjadi suatu masalah. Permen bukan alat pembayaran yang sah, kalau begitu nanti aku berbelanja pake sekarung permen bisa dong?

Dari peristiwa itu, setiap kali kalau aku mengalami hal yang sama, pasti aku langsung protes, “kok permen, Mbak?” atau “Aku nggak mau kembalian permen, Mas” heheee… ya biarlah, hehee……..


Aksi

Information

5 responses

4 09 2010
Catatan SederhaNa

iya mas,,,saya jg sering di bayar permen kl nggak ada kembalinya😀

5 09 2010
Aulia

Yap….tindakan yang benar…kewajiban toko untuk menyediakan uang sekecil apapun itu. Saya juga salah seorang konsumen yang seperti itu…Bukan persoalan duit, tapi persoalan kejujuran dalam bertransaksi…

6 09 2010
cenya95

Faith makes all things possible.
Hope makes all things work.
Love makes all things beautiful.
May you have all of the three.
Happy Iedul Fitri.

9 10 2010
yoyon

saling berbagi ilmu denganku,,kunjung balik blogku,,spa tau blogku ada manfaatnya buat mu

10 07 2011
wulan

sabar aja, lagian duit receh sekarang susah {langka}

Balas Komentar Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: