Cerbung Fiksi Memori Bab I

29 10 2010

Mulai Jumat ini aku akan menulis cerita bersambung, aku sendiri tak tau mau dibawa kemana cerita ini, mengalir saja lah… Rencananya dalam satu minggu sudah ada 1-2 kali update cerita ini. Aku pengennya sih pas sudah selesai nanti, ceritaku ini bakal dinovelkan, hehee…

Fiksi Memori

Fiksi Memori

Untuk lebih memudahkan, akan ada kategori khusus untuk postingan cerita bersambung ini, kategorinya “Fiksi Memori“. Jadi bila suatu saat sudah jadi, pembaca akan lebih mudah membacanya.

Berikut adalah awal dari cerita bersambungku, klik link di bawah ya?

Bab I
In My Memory…

Entah dimana keberadaanku, aku sendiri belum berani memastikan dimana aku ini. Sayup-sayup terdengar suara bacaan ayat Al Quran yang tak jauh dari tempatku terbaring.

Tak jauh dari sana aku juga mendengar suara tangisan anak kecil yang tak tau itu siapa. Perlahan kubuka mataku, dan aku mulai menyadari bahwa aku sekarang berada di sebuah rumah sakit.

Aku melihat tanganku penuh perban. Ada selang yang di tanganku yang terhubung ke sebuah tabung berisi cairan merah yang berada di atasku. Tiba-tiba rasa sakit menyerangku di seluruh tubuh, aku pun mencoba bangkit dari pembaringanku untuk mengusir rasa sakit yang menderaku, namun hasilnya malah makin membuatku serasa tersambar petir.

Bagaimana tidak, kakiku terbalut oleh semen putih yang mengeras, sulit digerakkan. Dan kalau digerakkan itupun aku merasakan sakit yang luar biasa.

“Kamu sudah sadar, Han?” tanya Fitri, salah satu sahabatku.

“Fit, ada apa denganku ini, apa yang terjadi padaku?” tanyaku kepada perempuan berjilbab itu.

Fitri hanya menunduk tanpa ekspresi.

Sebelum Fitri menjawab, sosok lelaki yang membaca Al Quran tadi berhenti melantunkan ayat-ayat Allah itu. Dia mendekatiku dan terlihat ekspresi lega diraut wajahnya. Ya, dia adalah sahabatku yang lain, Sigit.

“Handi, Alhamdulillah akhirnya kamu sudah sadar, sebentar aku panggilkan dokter dulu,” kata Handi sembari tersenyum melihat keadaanku yang mulai membaik.

Sigit membalikkan badan, seperti yang dia katakan tadi, aku rasa dia akan memanggilkan dokter untuk memeriksa keadaanku lagi.

“Tunggu Git, aku ini kenapa? apa yang terjadi?” tanyaku lagi mengulang pertanyaanku ke Fitri yang tidak dia jawab.

Ekspresi raut muka mendadak berubah, entah dia tak tega menceritakannya atau memang tak tau apa yang terjadi sebenarnya. Jujur, aku memang tak tau apa yang terjadi padaku sebelum kejadian ini. Tiap kali aku mencoba mengingatnya, kepalaku terasa sakit. Yang aku ingat sebelum kejadian ini adalah saat berada di mobil bersama ayah, ibu dan ketiga adik-adikku.

“Sudahlah Han, jangan dipikirin ya? Nanti kalau sudah mendingan aku cerita, janji!” jawab Sigit.

“Lalu kemana ayah ibu dan adik-adikkku,” tanyaku lagi.

“Mereka sudah tenang, kok. Mereka berada di ruangan lain,” timpal Fitri.

Aku sedikit lega mendengar jawaban Fitri itu. Paling tidak aku tau bagaimana keadaan mereka.  Aku sadar keadaanku kini kritis, terlihat dari balutan alat-alat medis yang membalut tubuhku dan ditambah dengan pertanyaan dan pernyataan Fitri dan Sigit tadi, aku menyimpulkannya seperti itu. Tapi sekali lagi, aku belum bisa mengingat apa yang terjadi padaku.

“Fit, nanti kalau ketemu Ayah dan Ibuku, bilangin saja aku baik-baik saja ya? Tak perlu mengkhawatirkan aku, kasian mereka Fit” pintaku pada Fitri.

Fitri hanya mengangguk, ekspresinya penuh tanda tanya, antara sedih dan terharu.

Tak lama kemudian Sigit datang bersama seorang dokter dan perawat. Dokter nampak mengalungkan stetoskop, sementara Perawat membawa catatan yang entah tak tau apa. Dokter itu lantas memeriksaku, mulai darah tekanan darah hingga luka-luka di tubuhku.

“Alhamdulillah sudah ada perkembangan baik, kita tunggu saja 2 hingga 3 hari kedepan ya? yang penting jangan terlalu mikir yang berat-berat dulu,” kata Dokter itu.

***

Selama dua hari itu, satu persatu dari temanku datang membesukku. Mulai dari sahabat satu angkatan di kampus, teman kantor, hingga teman-teman masa SMAku dulu. Mereka mengembalikan keceriaanku.

Walaupun begitu, ada satu pertanyaan besar bagiku, apa yang terjadi sebelumnya padaku. Bahkan aku pun tak ingat sudah berapa hari aku terbaring di atas kasur rumah sakit ini. Aku bingung, setiap kali mengingatnya kepalaku sangat pusing, entah kenapa! Mungkin karena secara tak sadar aku mengalami trauma yang luar biasa hingga aku merasakan sakit kepala yang hebat saat mengingat kejadian itu.

Hingga pada suatu saat aku tak sengaja melihat berita di televisi di ruanganku. Kulihat Sigit yang menjagaku saat itu tertidur sehingga aku bebas menyaksikan televisi. Dan saat itu juga terjawablah pertanyaanku selama ini.

Peristiwa liputan kecelakaan beruntun tiba-tiba membuatku teringat apa yang terjadi padaku. Walaupun makin pusing, memori-memori tersebut perlahan terkuak dari pikiranku. Ya, sebelum ini aku pernah mengalami kecelakaan bersama keluargaku.

Aku ingat benar, saat itu ayah, ibu, Mirza, Ayu dan Fauzi mengantarku ke Bandara Juanda. Saat itu aku hendak berangkat ke Bandung untuk melanjutkan studiku ke ITB. Tapi saat di jalan tol, kecelakaan hebat beruntun menimpa keluargaku.

Posisi Ayah saat itu sedang menyetir mobil bergantian dengan Ibu yang terlelap duduk disamping Ayah. Aku duduk tepat berada di belakang ibu bersama Mirza. Sementara itu Ayu dan Fauzi berada di belakangku.

Aku masih ingat, saat itu truk tronton melaju dengan cepatnya menyusul dan memotong mobil kami. Namun tiba-tiba truk tronton itu mengerem mendadak. Ayah membanting mobil ke arah kanan dan secara tiba-tiba ada kendaraan lain yang menabrak dari arah kanan kami. Setelah kejadian itu yang aku tau ya aku sudah berada di rumah sakit ini, sendirian.

Mataku meleleh mengingat kejadian itu. Alhamdulillah, aku selamat.. Tapi di mana keluargaku masih dalam tanda tanya. Apakah mereka selamat aku pun tak tau. Aku merasakan sakit kepala yang luar biasa hingga akhirnya aku jatuh pingsan lagi.


Aksi

Information

One response

1 11 2010
wildanr

Mas ceritanya bagus 😀
Saya tunggu kelanjutannya yah

Balas Komentar Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: