a Window to the Past….

3 01 2011

Ketika mendengar musik a Window to the Past (OST Harry potter 3), entah kenapa aku begitu tenang, memoriku perlahan teringat pada moment-moment indahku bersama sahabat-sahabat satu angkatan sewaktu kuliah. Termasuk hal yang akan aku ceritakan dalam postingan ini…..

Aku ingat bener kejadian itu, ketika aku duduk di semester 9 (kuliahku molor satu semester, heheee), bulan Nopember 2008. Kebetulan ada sedikit proyek dari dosen yang membuatku dan beberapa temanku seperti Edrus, Roni, Singgih, Alwi, terpaksa harus menginap di Laboratorium Geofisika ITS (walau tak ada proyek pun biasanya mengingap, heheee)

Malam itu menjadi malam kegilaan bagi kami, dalam satu ruangan ada 5 komputer, beberapa PC kita pakai untuk YM Conference. Belum termasuk yang bawa laptop yang turut serta dalam conference tersebut. Ohya, ada juga Isman, Tesandria, Imam dan Fathi yang turut serta walau dari laboratorium sebelah.

ym conference

ym conference

Entah darimana bahasan itu, seingatku awalnya membahas pribadi masing-masing yang sudah diketahui belangnya, termasuk aku yang mereka sebut sebagai ‘pemasok’ dan kolektor, entah apa maksud mereka, heheee… Namun tiba-tiba ada omongan Andi yang sedikit menyinggung Singgih, sehingga suasana YM conference mendadak menegang dengan opini masing-masing.

Conference YM tersebut ditutup tanpa ada penyelesaian yang jelas, aku berpendapat bahwa Singgih masih menyimpan rasa kesal pada Andi, aku sendiri hanya menebak-nebaknya saja….

Paginya perlahan kita melupakan suasana malam itu, semuanya kembali mencair. Bahkan kita semua ikut dalam Jalan Sehat Dies Natalies ITS, seperti biasalah, yang dicari waktu itu bukan doorprize nya, namun lebih ke bagaimana cara menghibur diri dan mencari “kesegaran”, heheee…

Ketika hendak sarapan pagi, aku dan Imam didaulat untuk beli makanan. Seisi lab otomatis aku tawari, “ada yang nitip sarapan nggak?“, dan memang dari situ banyak yang nitip makan pagi.

Sebelum pergi, Singgih bilang padaku..
“San, sarapane Andi iwak’e tempe loro ae karo sambel, gak usah iwak liyo, aku sing tanggung jawab,” (San, nasinya Andi pakai tempe 2 saja sama sambel, nggak usah lauk yang lain, beneran lho, aku yang tanggung jawab), kata Singgih.

Awalnya aku pikir konflik antara Singgih dan Andi semalam masih berlanjut, tapi aku positif thingking saja. Namun setelah dipikir-pikir ulang, kenapa nggak dilakukan saja? hahaaa

Aku hanya tertawa, campur dengan ragu, ini beneran apa enggak? aku sendiri iseng dan menuruti kata Singgih, niatku dari awal memang iseng dan ngerjain Andi, nggak lebih…

Sampai di warung makan, aku nggak tega bilang gitu ke penjualnya, jadinya aku menyuruh Imam untuk ngomong ke penjuanya kalau nasinya hanya pake sambel dan 2 tempe saja. Dalam hati aku ketawa, ketawa lucu dan  nggak tega sama Andi, aku sudah nggak bisa membayangkan saat memberikan nasi itu pada Andi.

Singkat cerita, teman-teman semuanya sudah berkumpul di depan ruang baca, menunggu nasi yang aku beli bersama Imam. Sebelumnya sudah aku bedakan mana nasi yang buat Andi, heheheee…

Nah, ketika Andi membuka nasi itu, wajahnya memerah padam, penuh amarah, namun dia bisa menahannya bersamaan dengan tawa dari teman-teman yang lain.

Ndi, dudu’ aku lho, aku dikongkon Singgih iki, sumpah dudu’ aku sing inisiatif, (ndi, bukan aku, aku hanya disuruh SInggih, sumpah bukan aku yang berinisiatif,)” kataku menahan tawa.

Ya, bukan Andi namanya, nasi itu tetap dimakan walau hanya dengan 2 tempe dan sambal saja… Kita pun sempat mengabadikan suasana ketegangan keduanya waktu itu…

Singgih (kiri) dan Andi (kanan)

Singgih (kiri) dan Andi (kanan) di tengah ketegangan

 

Setelah kejadian itu, suasana kembali mencair. Ya, itulah yang aku rasa dinamakan suatu persahabatan, bahkan lebih dari itu. Entah kata apa yang cocok dengan komunitas satu angkatanku ini, lebih dari sekedar persahabatan dan persaudaraan. Ketika rasa saling dendam muncul, tak seberapa lama pun bisa cair kembali, kita nggak bisa marah antara satu dengan yang lain, karena kita sudah cukup tau dengan pribadi dan watak masing-masing.

Setahun lebih kemudian, ketika kita dikumpulkan dalam suasana itu kembali, ada teman yang menyeletuk dan mengingatkan pada momen ini, kita semua kembali terbahak-bahak mengingat kejadian itu. Satu komentar Andi….

Waktu itu rasanya ingin aku bunuh kalian semua...” ungkapnya menahan tawa


Aksi

Information

One response

13 01 2011
jeremy

like me

Balas Komentar Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: