Hati Nurani Tak Akan Pernah Diajarkan di Sekolah

11 02 2011
Rindu, Sarah, Akbar, Slamet, Andi dan Farhan

Rindu, Sarah, Akbar, Slamet, Andi dan Farhan

Kamis (10/02) kemarin, memang sudah aku rencanakan buat nonton film Rindu Purnama. Aku sendiri tertarik nonton film ini karena aku lebih dulu dengar soundtracknya yang indah. Ya, lagu yang berjudul Cinta Satukan Kita yang dinyanyikan Judika ini mampu membuat aku teringat dengan memori-memori seperti yang aku tuliskan sebelum postingan ini.

Aku nonton pukul 18.30 WIB, di studio 1, Delta Plaza Surabaya. Usai sholat, makan aku langsung ke studio, tak banyak orang yang nonton pada jam ini, mungkin masih hari pertama pemutaran.

My Ticket

My Ticket

Film dibuka dengan adegan beberapa anak jalanan ngamen, dan kelucuan Akbar, anak berumur kuranglebih 3 tahunan mengusap ingus dengan polosnya, lucu sekali. Dilanjutkan dengan adegan pengejaran anak jalanan tersebut oleh saypol PP hingga ketika pengejaran tersebut, berujung pada perstiwa kecelakaan seorang gadis kecil bernama Rindu.

Rindu ditabrak oleh seorang pengusaha muda sukses, Pak Surya. Awalnya dia nampak cuek dan kaku, dia menyerahkan sepenuhnya urusan kecelakaan kepada supirnya, Pak Pur. Rindu pun di bawa ke Rumah Sakit dan Rindu dinyatakan amnesia ringan.

Aku awalnya agak gimana gitu dengan adanya amnesia ini, ya tau kan amnesia ini menjadi sesuatu yang ‘diandalkan’ untuk memperpanjang durasi sebuah sinetron, hahahaa… tapi ini lain, justru amnesia lah yang membuka keseruan film ini.

rindu purnama

rindu purnama

Pak Surya sebenarnya tak setuju jika Rindu tinggal di rumahnya. Namun Pak Pur sendiri bingung mau membawa Rindu kemana, masalahnya Rindu tak ingat siapa dia, bahkan siapa namanya (yang kemudian diberi nama Purnama oleh Pak Pur). Hingga akhirnya, Pak Surya lah yang mengantarkan Rindu Purnama untuk memeriksakannya di dokter.

Nah, tiba-tiba saja Rindu Purnama hilang, kabur gitu ceritanya. Pak Surya sontak khawatir, yang ditinggalkan Rindu Purnama hanya lukisan-lukisannya yang indah.

Sementara itu, di rumah singgah, sang pengasuh, Sarah beserta Akbar (adik Rindu) dan teman-temannya seperti Fahan, Andi dan Slamet terus mencari keberadaan Rindu. Termasuk juga Pak Surya yang awalnya tak peduli dengan kondisi Rindu.

Ibu yang hanya gundukan tanah :(

Ibu yang hanya gundukan tanah 😦

Saat semua orang sedang mencari-cari keberadaannya, Rindu bertemu dengan bocah lelaki yang dia panggil monyet (aku lupa nama yang di filmnya, heheheee). Monyet seorang  bocah yang ceria, optimis, dia membanggakan sosok ibunya, namun pada akhirnya kita tau, bahwa ibunya yang selalu dia banggakan tak lebih dari segunduk tanah 😦 Rindu pernah ditunjukkan oleh Monyet ini.

Puncak film yang bikin aku tersentuh, ketika Rindu sudah ingat dengan masa lalunya. Backsong Cinta Satukan Cintanya Judika mengalun indah dalam film ini. Sementara dalam film memperlihatkan Akbar yang sedang menangis memanggil-manggil kakaknya, “Kak Rindu, Kak Rindu…..”

akbar nangis merindukan rindu purnama

akbar nangis merindukan rindu purnama

Berbekal dengan lukisan-lukisan dari Rindu, akhirnya Pak Surya menemukan tempat tinggal Rindu. Pak Surya kemudian bertemu dengan Sarah tadi. Perlahan muncul-muncul benih-benih cinta keduanya. Sontak, Monik, anak atasan Pak Surya cemburu dengan kedekatan antara Pak Surya dan Sarah ini.

Rindu akhirnya pulang sendiri ke rumah singgah, namun cerita belum selesai, konflik dilanjutkan dengan kecemburuan Monik yang berujung dendam untuk menggusur lokasi rumah singgah tempat tinggal Rindu dan kawan-kawannya.

Pak Surya galau, di sisi lain dia harus menunjukkan profesionalitasnya, di sisi lain dia harus menunjukkan hati nuraninya, terlebih kepada Rindu yang sudah dia sayangi (dan Sarah tentunya). Ending cerita sungguh diluar dugaan, aku kira awalnya Pak Surya resign, eh ternyata …………………… hmmm… πŸ™‚

Ini beberapa qootes yang aku dapatkan, kurang lebih gini:

“Ini bukan hanya masalah profesionalitas, tapi hati nurani, yang tak pernah diajari di sekolah tinggi, sekalipiun di Amerika Serikat” (Pak Surya)

“Yang namanya manusia saja bisa dipanggil Monyet” (Rindu Purnama)

Sisi lain dari film ini adalah Titi Sjuman yang berperan apik dalam memerankan Monik yang antagonis, judes, pengen nampol pokoknya. Konon dia sendiri jengjel dengan karakter yang dia perankan ini, aku tau dari balasan status twitterku kepadanya, hehee….

status twitter titi sjuman

status twitter @titisjuman

Well, film ini terlalu sayang untuk dilewatkan. Recommended buat yang rindu akan film Indonesia yang kini marak dengan film bergenre horror (yang dibumbui adegan-adegan gadis berbikini), tak hanya berkutat di amslah seputar anak jalanan, namun memang sisi hati nurani yang dititikberatkan dan dibumbui dengan nilai religius seorang Pak Surya yang kuat.


Aksi

Information

Balas Komentar Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: