Berani Beropini · Ceritaku · Resensi

Sebuah Tanda Tanya Besar

Ketika aku menonton film ? (baca: tanda tanya) karya Bang Hanung Bramantyo, Kamis (07/04) kemarin, tak sedikit matapun terlewatkan dari layar bioskop. Aku begitu terlarut dalam cerita yang dihadirkan. Baru kali ini aku menemukan sebuah kepuasan dalam menonton film Indonesia.

film-tanda-tanya
film-tanda-tanya

Sebelumnya, aku tak melihat trailernya ataupun sinopsisnya. Aku hanya tau dari twitter bang Hanung yang menyatakan kalau film ini bercerita tentang perbedaan, entah itu agama, suku atau hal lain yang tak jauh dari kehidupan kita. Meski begitu, aku begitu bisa mengikuti alur cerita yang dihadirkan, permasalahan tak hanya terletak pada satu sosok tokoh dalam film tersebut, namun semunya memiliki cerita masing-masing.

Jujur, aku tercengang dengan sebuah scene, ketika si Rika (Endhita) yang diceritakan pindah keyakinan ke agama Katolik, yang saat itu dalam gereja dan menuliskan bahwa Tuhan (dalam hal ini Yesus) itu Ar Rahman, Ar Rahim dan asmaul husna yang lain. Aku juga takjub ketika Tan Kat Sun, suku china, yang meminjam Menuk (RevalinA) sebuah buku berjudul Asmaul Husna, lebih dramatisnya itu baru diketahui ketika di akhir umur Tan Kat Sun.

Aku sendiri jengkel, kenapa ada dua tokoh meninggal dengan cara yang begitu dramatis 😦 huhuhuuhu

Ini sebuah puisi yang ada dalam film tersebut,

Manusia tidak hidup sendirian di dunia ini, tapi di jalan setapaknya masing-masing.
Semua jalan setapak itu berbeda-beda, namun menuju ke arah yang sama, mencari satu hal yang sama dengan satu tujuan yang sama, yaitu Tuhan.

2 thoughts on “Sebuah Tanda Tanya Besar

    1. Tanggapan KH. Kholil Ridwan (Kesesatan Film “Tanda Tanya”)

      “Setelah menyaksikan langsung film yang disutradarai Hanung secara utuh, saya mendapatkan kesan, aroma pluralisme agama yang sangat menyengat dalam film ini,”

      Menurut Cholil, pluralisme yang dibolehkan dalam Islam adalah pluralisme sosiologis. Itulah yang dikenal dengan pluralitas. Misalnya saja umat Islam sudah semestinya hidup berdampingan dengan orang Kristen dan umat agama lain, tanpa harus mengorbankan keyakinannya.

      “Jadi yang namanya kerukunan dan toleransi itu tidak boleh mengorbankan keyakinanya,” tukas Kiai Cholil mengingatkan.

Balas Komentar Ini

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s