Kesabaran Tiada Batas

14 12 2012
SMP Islam Manbaul Ulum

SMP Islam Manbaul Ulum

Hari Guru 25 Nopember sudah lewat, namun hari Ibu 22 Desember sebentar lagi. Saya coba menggabungkan 2 moment itu untuk menulis tentang Bu Guru yang memang bener-bener Ibu yang tangguh, beliau i salah satu guru terbaik saya. Guru di sini memang guru dalam arti yang sebenarnya, guru yang saya temui setiap hari di sekolah pada zaman saya sekolah dahulu kala.

Kalau saya ditanya, siapa sih guru yang terbaik menurutmu? bagi saya semua guru yang pernah mengajari saya memang baik, tapi kalau disuruh milih siapa yang terbaik, saya dengan lantang menjawab Ibu FauziyatulM

ufidah atau biasa saya panggil bu Mufid. sampai detik tulisan ini diposting saya gak pernah melupakan sosok yang sudah saya anggap sebagai ibu saya sendiri tersebut.

Orang-orang mengenal Ibu Muslimah di cerita Laskar Pelangi,Ibu Muslimah menjadi sosok guru inspiratif bagi kebanyakan orang. Jaman sekarang ada Pengajar Muda yang mengajar di pelosok Negeri, keduanya tak bisa dicompare atau dibandingkan karena hidup di zaman yang berbeda. Dan sosok guru yang mungkin tak bisa lepas dari hati saya adalah Bu Mufidah ini.

Kali pertama saya bertemu Bu Mufid yakni pada saat hari pertama masuk SMP. Saya dulu bersekolah di SMP Islam Mambaul Ulum Gresik, saya duduk di kelas 1 B dan Bu Mufid wali kelas saya. Sejak saat itu saya sudah berpikir bahwa Bu Mufid orang yang cukup sabar dan keibuan. Dugaan saya benar, makin hari, Ibu Mufid tak hanya sebagai Guru Bahasa Indonesia saja, tapi menjadi sosok pengayom dan ibu wali kelas yang sangat baik bagi murid-murid kelas 1 B.

Saya ingat benar, di kelas 1 B terjadi banyak kasus murid nakal, ya sebutlah satu anak bernama Chusairi, dia satu tahun tidak naik kelas, dan jadinya sekelas sama saya, Ya bukan jadi rahasia umum lagi kalau anak yang tidak naik kelas pasti banyak kasus, dan si Chusairi ini masih melanjutkan sepak terjang kenakalannya di kelas 1 B ini, parahnya menularkan ke teman-teman saya waktu itu. Hampir tiap bulan ada saja kasus, mulai dari bolos, ngerokok, sampai mengganggu anak putri. Tapi sosok bu Mufid ini tetap sabar menghadapi anak-anaknya yang nakal

Saya sendiri termasuk murid yang baik (waktu itu, tapi kalau sekarang …… heheheee), bahkan saya jadi juara kelas pada saat itu, nilai-nilai saya selalu jauh terdepan. Dari sini si Chusairi mulai mencari celah mengganggu saya, mulai dari tiap pagi minta contekan PR, saat Ulangan selalu minta contekan lewat kertas yang diuntel-untel, hingga ada semacam pemerasan dalam bentuk materi.

“Kalau kamu gak mau contekin saya, kamu akan saya pelatihan militer,” ancam dia waktu itu.

Entah apa maksud Chusairi dengan latihan militer, yang jelas bagi saya waktu itu sangat mengganggu. Saya hidup serba ada ancaman selama beberapa bulan di kelas, hingga pada satu hari salah satu teman saya memberi tahu Bu Mufid tentang hal yang saya alami ini, dan saat itu juga Bu Mufid menginterograsi saya. Saya melihat sisi lain dari Bu Mufid, dia bener-bener respek sama saya, saya ngerasa dia bukanwali kelasku, tapi sudah seperti ibu waktu menasehati saya di rumah.

“Jangan sampai hal itu mengganggu prestasimu, kalau ada apa-apa bilang sama ibu, kamu gak usah takut,” itulah kata Bu Mufid waktu itu yang hingga saat ini masih saya ingat.

Setau saya, Bu Mufid adalah guru yang paling sabar menghadapi murid-muridnya waktu itu, kesabaran beliau seolah tiada batas. Tak pernah beliau marah di depan kelas, beliau menasehati dan mengayomi dengan cara beliay sendiri. Saya banyak belajar kesabaran pada beliau.

Waktu terus berlalu, sepanjang saya kelas 1 SMP, saya selalu berada dalam “lindungan” Bu Mufidah. Waktu pun berlalu, menginjak kelas 2 saya pindah kelas ke 2 C dan Bu Mufidah tetap menjadi wali kelas saya. Bu Mufidah juga didaulat sebagai pembina perpustakaan, tempat tongkrongan saya selama istirahat, dan ya begitulah, ini membuat Ibu kandung saya makin akrab sama Bu Mufidah.

Waktu pun cepat berlalu, beberapa bulan yang lalu, Bu Mufidah nge-add Friends di Facebook saya. “Hahahaa.. tambah gaul nih Bu Mufid,” dalam benak saya.  Ini pun kadang ketika saya online dan beliau online dan tidak sama -sama sibuk, kita ngobrol-ngobrol lewat chat. Bu Mufidah masih seperti dulu, masih ingat saya, padahal sudah hampir sepuluh tahun berlalu dan tidak ketemu.

“Gimana kabar Ibumu, sehat? Kamu sendiri sehat?” itu tanya Bu Mufidah yang sering dan pasti dibilang pada awal-awal chat.

Saya tak mempunyai foto Bu Mufidah waktu saya SMP dulu, sepintas saya lihat foto Bu Mufidah di Facebook ternyata tak banyak berubah, masih awet muda menurut saya! Beberapa malam yang lalu, Beliau bilang gini sama saya, “Tau gak Jun, saya tuh sering memberi contoh anak-anak dgn sosok kamu lho, habisnya anak jaman sekarang itu tidak mau kerja keras,” puji beliau pada saya. Saya pun malu hahahaaa…

Bu Mufidah juga pasti nanya gini, kamu kapan pulang? pertanyaan sama seperti yang ibu saya tanyakan setiap kali saya telepon. Bu Mufidah suruh saya main ke sekolah waktu saya pulang. Sebenarnya saya juga rindu sekolahku dulu, rindu guru-guru SMPku, dan seisi sekolah SMP Islam Mambaul Ulum. Dari sekolah ini lah saya bisa berpretasi kemudian dengan mulus masuk ke SMA Favorit di kota saya, kemudian melaju di PTN favorit di Surabaya dan hingga seperti sekarang ini. Kerja keras mereka semua dan orang tua saya pasti sangat berperan hingga saya seperti sekarang ini.

Someday! Saya pasti ke sana🙂


Aksi

Information

One response

2 04 2013
domtheoos

memang benar, kesabaran yang tiada batas. orang-orang bilang juga sebagian sabar itu ada batasnya.

Pintu dan Jendela

Balas Komentar Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: