Will You Scream With Us?

18 12 2012
will you scream with us?

will you scream with us?

Gagalnya konser Trio Lestari (16/12) kemarin menyisakan cerita tersendiri pada saya. Di sini saya gak mau bercerita bagaimana tragedi itu, tapi saya mau cerita bagaimana lika-liku perjalanan saya dari bulan September 2012 hingga ikutan panik ketika dalam Ballroom Trans Hotel saat malam konser berlangsung. Sekali lagi di sini saya tidak menyudutkan pihak EO, tapi saya menulis berdasarkan sudut pandang dan pengalaman saya dan apa yang saya alami.

September 2012. Saya ingat benar waktu itu, saya di Whats App Rizka, teman saya yang kebetulan sama-sama fans Raisa. Waktu itu Rizka ngasih tau kalau Trio Lestari mau konser ke Bandung bulan Desember mendatang dengan opening by Raisa dan Tulus. Tanpa pikir panjang saya pun mengiyakan ajakan Rizka.Saya membeli tiket hanya untuk menyaksikan penampilan Raisa terutama, mangkanya mau bayar yang menurut saya cukup mahal, apalagi nanti ada juga Trio Lestari dan Tulus. Saya sudah membayangkan konser yang eksklusif dan megah🙂

Kemudian Saya, Rizka dan Intan memutuskan beli tiket Presale Gold dengan harga Rp 275.000  dengan layout seat sebagai berikut:

Layout Seat Plan 1

Layout Seat Plan 1

Dari gambar di atas, kamu sudah bisa lihat awalnya hanya terdiri dari 4 kelas saja, Bronze, Silver, Gold dan Platinum. Si Intan teman saya yang membeli tiket itu, dan saya tidak tau jelas bagaimana dia membelinya. Dia hanya ngasih tau kalau setelah transfer dia mendapatkan invoice alias tanda terima telah membeli tiket.

Waktupun berlalu, sekitar bulan Oktober Presale ditutup dan pihak EO memulai penjualan secara online. Setau saya harga perbedaan tiap kelas berkisar antara Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu. Pihak EO terus berpromosi sampai menyatakan kalau tiket yang tersisa hanya kelas tertentu (saya lupa waktu itu)

H-14 ketegangan pun dimulai, tiba-tiba pihak EO mengumumkan adanya kejutan yang menyenangkan katanya. Kejutan tersebut adlah dibukanya pendaftaran Volunteer dan dibukanya 2 kelas lagi, yakni Festival dan Diamond. Dibukanya 2 kelas baru ini mungkin dikarenakan kelas-kelas yang lainnya sold out! Awal dibukanya 2 kelas itu tanpa pemberian layout gambar secara jelas, sehingga pada awalnya orang hanya menerka-nerka di mana posisi 2 kelas tersebut pada panggung. Akhirnya pihak EO pun mengupoloadnya dengan gambar sebagai berikut:

Perbandingan Seat Plan Lama dan Baru

Perbandingan Seat Plan Lama dan Baru

Dari situ bisa kamu lihat, Festival dan Diamond tiba-tiba menyusup ke depan dan secara otomatis menggeser kelas-kelas lama. Saya duduk di Gold dan makin terbelakang. Karena hal ini banyak orang protes di Twitter. Tweetdeck saya sengaja saya pasang tab mention ke @LivingStoneEO, hampir 100% customer yang sudah membeli tiket sebelumnya tak menyetujui layout saya. Entah apa alasan yang menyebabkan pihak EO melakukan perubahan layout. Saya termasuk orang yang protes di Twitter kenapa seperti ini, ada orang yang bilang kalau hal tersebut sebagai bentuk wanprestasi dan penipuan karena orang mengeluarkan uang beli buat layout seperti itu, dan jika ada perubahan layout itu berarti pembohongan alias penipuan. Banyak yang menilai juga pihak EO seperti kemaruk dengan dibukanya 2 kelas itu, hanya karena Bronze, Silver, Gold dan Platinum yang sold out,

Dari peristiwa malam itu saya pun mengenal beberapa teman yang sepenanggungan dan satu pemikiran. Malam itu juga tak lupa saya memberi tau Rizka dan Intan tentang perubahan layout, mereka juga tidak terima dan sejak malam itu pula karena berinteraksi banyak orang lewat Twitter, saya juga baru ngeh kalau tiket yang beli Presale belum ada tindak lanjut, alias masih dalam bentuk invoice dan tidak jelas bagaimana arahnya, padahal sudah H-14. Sementara yang sudah beli non presale ada yang sudah dikirim tiket by email dan ada yang belum. Malam itu juga, pihak EO pun berjanji akan memperbarui kembali layout tersebut, sehingga cukup ditenangkan.

Keesokan harinya, pada malam hari, kembali akun Twitter @LivingStoneEO mengumumkan akan mengupload layout baru, dan inilah layout baru yang akhirnya disepakati dan digunakan sampai hari H:

Layout terkahir yang digunakan

Layout terakhir yang digunakan

Malam itu pihak EO tidak tau menau dan cuek dengan respon, dengan catatan pihak EO menyediakan refund atau upgrade bagi mereka yang masih merasa tidak puas. Saya dan teman-teman sendiri mau tidak mau menerimanya, dengan asumsi karena layout di atas masih lebih baik dari yang sebelumnya.

Keesokan harinya, saya tiba-tiba difollow Twitter pihak EOnya, dan mengirimkan DM ke saya. Pada intinya minta alamat kontak saya, Dari situ saya SMSan sama namanya Taufik (yang diketahui adalah CTOnya), intinya dia memberikan spesial offer pada saya dengan mengupgrade 3 gold saya menjadi Platinum. Wuih! siapa yang tidak mau, jujur lalu saya langsung mengiyakan. Tapi tunggu dulu, dari mana jatah tiket Platinum itu? katanya habis alias sold out? “Dari pembeli yang refund” katanya. Akhirnya saya pun mengiyakan dan beliau menjanjikan bahwa tiket saya dan teman-teman yang baru (presale-platinum) akan dikirimkan hari itu juga.

Masalah belum selesai, H – 3 tiket juga belum ada di email. Memang ada kesalahan penulisan di invoice mengenai alamat email konfirmasi, tapi saat SMSan sama Taufik itu saya sudah mengkonfirmasinya. Akhirnya saya diarahkan untuk menghubungi CP yang lain, dan ini lebih enak komunikasinya. Saya disuruh emailkan bukti invoice, dengan segera saya kirimkan, dan tak seberapa lama dia pun mengirimkan email tiketnya, dan helooooooooooooooo…. dung dung dung ternyata yang dikirimkan bukan 3 platinum seperti kesepakatan, tapi 5 gold! Untung kami bukan orang jahat, dan bilang yang sebenarnya, tak lama kemudian tiket 3 platinum udah di tangan. Dan kita bersiap menjelang konser megah dan janjian jam 2 kumpul di BSM, karena sebelumnya pihak EO bilang kalau Open Gate mulai jam 16.30 sore dengan teknis sedemikian rupa.

Hari H ini menjadi bagian yang paling seru! Sejak pagi saya sudah membicarakan ketemuan sama Intan dan Rizka., Kebetulan saat itu ada Panji yang mau bareng, dan teman-teman yR Bandung yang lain yang mau pada bareng. Sejak pagi sudah berdiskusi, dan jam 2 kita janjian, hingga akhirnya tertunda gara-gara secara tiba-tiba pihak EO mengumumkan penundaan Open Gate menjadi pukul 18.55 WIB. Hadeuh! Ya sudah sambil menunggu, kita pun berkumpul dulu di Solaria BSM sambil menunggu yang lain.Satu persatu teman-teman datang dan berkumpul di Solaria.

Saat itu, sambil menunggu open gate, saya iseng kepoin dan stalking Twitter, dan ada kabar kalau ada kekacauan di dalam Ballroom. Keterlambatan check sound, masalah yang satu datang dan masalah yang lain ditinggal dan masalah yang lain. Saya gak ngeh karena saya hanya membaca lewat Twitter-Twitter orang.

Jam 5 sore, saya dan teman-teman memutuskan untuk meninggalkan Solaria menuju Venue, dan terkejut karena sudah banyak yang antri.  Ohya, teman-teman memisah karena jalan masuk untuk tiap kelas di bagi 2, saya kebetulan berada di Gold, Platinum dan Diamond. Begini kira-kira yang antri untuk kelas Gold, Platinum dan Diamond.

Suasana Antri di deretan Gold, Platinum dan Diamond

Suasana Antri di deretan Gold, Platinum dan Diamond

Lama banget menunggu, kasian yang sudah antri. Hingga pada jam 6 sore lebih, penonton sudah mulai jalan menuju Ballroom. Ada 2 lapis pintu, pertama pemeriksaan barang bawaan, kemudian dikasih kopi yang pahit, Trus pintu kedua yang berbatasan langsung dnegan Ballroom masih harus ditahan lagi, entah ada alasan apa. Yang jelas tetep ngaret, lebih dari jam 7 pintu juga belum dibuka, hingga yang antri pada saat itu sempat kisruh dengan berteriak “buka.. buka… bukaa…”

Pintu kedua pun dibuka, cukup ribet karena scan barcode tiket menggunakan HP, hahahaaaaa… saya pikir pakai alat yang seharunya, tapi kalau pakai HP pasti lama banget, ada sekitar 30 detik atau 1 menit yang dibutuhkan untuk scan barcode tiket. Bagaimana jika HPnya lowbat? ah itu bukan urusan saya,

Saya, Rizka, Intan pun masuk. Memilih di sisi sebelah kanan panggung, dekat dengan Festival. Kira-kira nomor 7 dari deretan depan. Suasana pada ballroom saat itu gelap. Di samping panggung ada screen besar yang menampilkan slide show sponsor dan media partner. Sementara di panggung saya melihat ada selambu kain hitam yang dipegangi panitia yang ternyata di dalamnya sedang dan masih check sound (hadeuh), sambil menunggu konser mulai, di Ballroom sempat didengarkan lagu Raisa Melangkah hingga dua kali, heheee… saya dan teman-teman sudah makin tidak sabar melihat konser megah ini.

Kekacauan dimulai….. semua orang tak akan pernah menyangkanya…

Terdengar suara “kreeek” atau saya sulit mendeskripsikannya, suara seperti patah atau benda terjatuh, disambung dengan teraikan histeris para penonton. Saya pun menghadap ke belakang melihat kondisi yang terjadi, namun tak terlihat karena suasana memang gelap, ditambah lagi dengan panitia yang menyatakan “tidak apa-apa, tenang tenang…” jadi membuat saya tak mengindahkan keributan tersebut.

Suara tersebut berulang lagi, saya berpikiran ini hanay kegaduhan penonton yang tak sabar memulai konser, suara tersebut kembali terulang hingga tiga kali, empat kali dan saya mneghitung ada sampai enam kali suara tersebut. Puncaknya terdengar suara seperti bangunan ambruk dan roboh, ditambah dengan teriakan yang jauh lebih scream nan histeis panik dan ketakutan. Saya masih belum jelas lihat apa yang sebenarnya terjadi di belakang.

Penonton yang lain malah bilang “Panitia mana.. panitia… security. mana security polisi keamanan mana? lampu nyalakan….” beberapa suara penonton saya gabung jadi satu.

"bruuuuk" rubuh panggungnya

“bruuuuk” rubuh panggungnya

Saya naik kursi, melihat apa yang sebenarnya terjadi di belakang dan di sinilah saya melihat bangku penonton di Silver ambruk. Penonton masih emosi, tak terlihat adanya tindak cekatan dari panitia. Lampu pun menyala dan terlihat jelas memang bener-bener roboh! Penonton yang lain makin emosi karena sekali lagi panitia yang di depan hanya bisa diam, saya tak bisa melihat apakah di lokasi yang runtuh di sekitarnya ada panitia apa enggak. Penonton sendiri terpecah, ada yang masih bertahan dalam Ballroom dan beberapa yang lain memutuskan untuk keluar.

“Api.. itu api… asap ada asapnya!” Tiba-tiba si Rizka memberi tahu saya sama Intan.

Penonton bapak dan sekeluarganya yang ada di samping saya memutuskan untuk keluar Ballroom.

“Kelaur saja mas, bau gas…” kata Bapak itu pada saya.

Dan benar, tak lama saya mencium bau gas seperti saat mau memasang gas elpiji. Karena tak mau kenapa-kenapa, kami bertiga juga ikutan keluar, masa bodoh dengan konser yang katanya spektakuler itu. Nyawa lebih penting.

Saya, Rizka, Intan di luar, sempet ngobrol sama panitia kenapa hal itu bisa terjadi, kenapa kok bisa terlambat hingga seperti sekarang ini. Saya di sini bingung, mana yang panitia dan mana yang volunteer. Setelah suasana cukup tenang, kami pun masuk kembali, dan memutuskan untuk berdiri di dekat pintu utama Ballroom, ya bisi wae ada sesuatu yang terjadi lagi dalam gedung, kan gampang keluarnya😛

Di sini penonton kacau, makin semrawut! Beberapa ada yang naik panggung, Bronze, Silver, Platinum, Diamond dan Festival yang tadinya “disekat-sekat” menyatu dalam Ballroom. Beberapa penonton terlihat mengabadikan suasana dengan smartphone-nya, saya juga melihat ada kamerawan yang mewawancarai ibu-ibu yang kecewa dgn konser ini.

Di sini lah kemudian CEO LivingStone dan beberapa teman-temannya muncul. CEO memberikan pernyataan dan permintaan maafnya dan menyatakan bahwa Trio Lestari masih mau melanjutkan konsernya. Sebagian penonton seneng, sebagian lagi masih tidak terima karena keadaannya yang tidak memungkinkan untuk dilanjutkan konser. Lagian menurut saya pribadi, kalaupun akhirnya dilanjutkan pasti mood penonton akan berbeda.

Ada satu orang penonton berusia paruh baya, sebutlah bapak-bapak naik ke pangggung, langsung mengambil microfon dan tidak setuju konser dilanjutkan. “Bubarkan… bubarkan..” demikian kata bapak tersebut.

Suasana kembali tidak kondusif, penonton masih diombang-ambingkan antara lanjut enggaknya konser ini, lanjut apa enggak. Ada sekitar 30 menitan kami menunggu, dan panitia keluar dan memberikan pernyataan bahwa konser dibubarkan.

***

Ya, penantian lama sejak bulan September berakhir dengan kejadian yang tidak saya sangka sama sekali ini, saya menunggu sejak bulan September, khususnya perform Raisa. Tapi karena ini sudah keputusan panitia, ya mau bagaimana lagi? Dari akun Twitternya, Raisa mengaku sedih tidak bisa tampil, dia sendiri dan bandnya sudah siap tampil di depan panggung dan ini buktinya, sudah siap bener.

Raisa dan Band

Raisa dan Band

Dari peristiwa ini, banyak kabar beredar kalau Living Stone adalah EO termuda, masih baru dan ini event pertamanya, bahkan CEO nya masih anak kuliahan angkatan 2011. Selebihnya saya tidak menau soal ini.

Ya, hikmahnya bagi saya, pasti suatu saat nanti bisa menyaksikan Raisa manggung lagi, entah di mana itu nanti🙂


Aksi

Information

Balas Komentar Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: