Sedhuluran Saklawase

9 04 2013
gravitasi 2004

gravitasi 2004

Kenapa saya begitu membangga-banggakan teman-teman satu angkatan semasa kuliah dulu? karena mereka semua beda! angkatan kita beda karena hingga detik ini kami masih sedekat dulu walau sudah jarang sekali ngumpul kayak waktu kuliah dulu. Frekuensi ketemu kita secara nyata hanya saat-saat tertentu, saat lebaran kemarin misalnya, kita semua berkumpul di rumah mbak evi di dekat Joyoboyo.

Tapi di lain itu, kita masih kontak-kontakan terus, bahkan update berita mengenai teman-teman, semua pun tau, ada yang nikah, ada yang melahirkan atau ada berita lain kita pun tau, tak jarang pula ada teman ngeshare informasi soal pekerjaan atau bisnis lainnya.

Dulu kita mungkin punya Mailist, tapi gak sekarang nasibnya bagaimana, walaupun kita masih sekampus waktu itu, tapi kita punya mailist yang isinya segala macam diskusi atau informasi-informasi lain. Sekarang Mailist sudah tidak dipakai lagi dan beralih di Grup Facebook, namun lagi-lagi tidak efektif karena pemaksimalan hanya bisa diakses di komputer PC, belum lagi tidak semua suka browsing-browsing gitu, jadi saat ini kita memanfaatkan Whats App. Ya, di sini saya mau cerita soal grup Whats App angkatan saya yang diberi nama “Sadhuluran Saklawase” yang artinya bersaudara selamanya…

Grup Whats App sendiri saya yang buat, karena saya tau banyak teman sekarang yang sudah ada smartphone. Satu dari persatu mereka saya invite walau gak semuanya, obrolan pun hampir tiap hari, ada saja yang dibahas, tetap akrab dan hangat layaknya di dunia nyata. Pokoknya kalau saya tertawa ngakak-ngakak sendiri sambil lihat hape itu berarti saya lagi bergumul dengan mereka di Whats App, saya yakin teman yang lain pun demikian ngakak sendiri kalau bergumul.

Seiring dengan perjalannya waktu, ada peraturan-peraturan nyeleneh di Grup Whats App angkatan saya, yakni:

1. Dilarang membahas soal pernikahan

2. Dilarang marah atau ngambek jika dibully

3. Dilarang berjualan dan promosi

4. Dilarang membahas soal politik

Peraturan nomor 5 dan seterusnya akan bertambah nanti dan nanti.

Peraturan itu sebenarnya bukan yang wajib dipenuhi, tapi hanya sebatas peraturan buat becandaan yang sah-sah saja dilanggar, tapi untuk khusus yang point 2 itu wajib dilakukan, karena pembullyan menjadi aktivitas sehari-hari, kadang saya yang dijuluki raja bok*p, kadang roni si pemilik bulu hidung terpanjang di angkatan karena tak kunjung nembak idamannya, kadang alwi sama nadi*a, kadang lepo, pokoknya hampir semua pernah mengalaminya.

Itu adalah screenshot untuk obrolan tadi pagi, sesaat setelah jam kantor. Awalnya Berry nanya, siapa yang datang temu alumni? awalnya si Lepo menjawab, “saya tidak datang,” lalu si Fitri menjawab juga, “saya sama kayak Lepo”, terus si Aris bilang, “saya juga sama kayak Lepo dan Fitri”. Saya lalu menjawab juga, “saya sama kayak aris, lepo, dan fitri,” bersamaan dengan itu Tesa dan Dina ngejawab bersamaan sama kayak saya. Otak kita sama, cara becandaannya sama, coba bayangin saja kalau becandaan ini diteruskan hingga orang ke-30, “saya sama kayak Lepo, Fitri, Aris, Hasan, Tesa, Dina, Nana, Uut, Alwi, Edrus, Wayan, Roni, Gusti, dan semua satu angkatan….”


Aksi

Information

Balas Komentar Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: