Senandung Rindu untuk Bapak

26 03 2014

bapakSaya tiba-tiba menjadi kecil kembali, sekitar umur 8-9 tahun. Saya bermain di sekitar rumah saya, tiba-tiba bapak memanggil saya ke ruang tamu. Bapak bawa tas seperti mau pergi, Bapak bilang gini sama saya, “Sudah ya, Bapak mau pergi dulu”. Saya kemudian menunduk, memeluk kaki bapak dan tidak membiarkannya pergi, “Pak jangan pergi dulu, saya belum minta maaf, Pak.. Jangan pergi dulu…” saya merengek-rengek.

Percaya nggak percaya, itu mimpi H – 1 sebelum bapak tiada. Bapak saya meninggal pada hari Rabu 19 Maret 2014 sekitar pukul 1/2 1 dini hari. Bapak meninggal akibat penyakit yang dideritanya, komplikasi darah tinggi, diabates dan stroke. Waktu berita itu diberi tahu kakak saya, saya masih berada di Bandung, saya tidak berada di samping bapak di hembusan nafas terakhirnya.

Ini adalah kali kedua peristiwa ini terjadi, sebelumnya sekitar bulan Oktober 2011 hal yang sama terjadi pada kakak saya. Menyesal itu sudah pasti, tapi kita tidak pernah tau rahasia Allah termasuk masalah umur seseorang sekalipun.

Sebenarnya bapak sakit sekitar 5 bulan yang lalu, kambuh sembuh, kambuh sembuh, begitu seterusnya. Puncaknya ketika pertengahan bulan Desember 2013 kemarin, Bapak rawat inap di rumah sakit. Waktu dibawa ke rumah sakit, saya di samping bapak, saya selalu bertanya, “Pak, mana yang sakit?”. Bapak hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil mengangkat tangan kanannya yang waktu itu sulit digerakkan. Memang Bapak sebelumnya jatuh dari motor, Bapak mengeluh tubuh bagian kanannnya sulit untuk digerakkan.

Waktu itu bapak diperiksa seluruhnya, jantung, paru-paru, darah, ginjal, semuanya normal. Hingga kemudian otak bapak discan, ada penyumbatan syaraf otak sebelah kiri, ini yang kata dokter menyebabkan tubuh bapak lemah. Kurang lebih 10 hari bapak dirawat di RS, dan saya selalu menemani bapak.

Selama 10 hari itu, bapak selalu bilang gini sama saya, “nanti kalau saya sembuh, kamu, ibu dan mbak laila saya ajak Umrah ya,” Ada rasa haru ketika bapak mengatakan hal yang demikian, dada sesak, saya tahan air mata saya, “iya pak, mangkanya bapak sembuh dulu,” Bapak nggak mengatakan apa-apa, hanya memandang langit-langit di rumah sakit.

Hari Senin, 2 hari sebelum bapak tidak ada, saya dikabari kalau kondisi bapak lagi down. Waktu itu saya berniat untuk pulang weekendnya, namun Selasa sore harinya saya dihubungi kembali oleh ibu kalau kondisi Bapak makin parah dan saya disuruh pulang secepatnya. Jika ibu sudah berkata demikian, maka pasti kondisi di rumah saat itu sudah kritis, Ibu mungkin sudah ada feeling kalau hal buruk bakal terjadi, mangkanya saya disuruh pulang secepatnya.

Sore hari itu, saya langsung minta izin kantor. Alhamdulillah teman-teman kantor saya baik banget, bahkan ada yang mengantar saya ke bandara mencari tiket pesawat walau saat itu sedang hujan deras banget. Sesampai di bandara hasilnya nihil, semua maskapai penerbangan loket tiketnya tutup dan saya disuruh balik lagi besok subuh. Mau bagaimana lagi, sayapun harus mengikuti prosedur untuk kembali besok shubuh.

“Ya Allah, mudahkan lah jalan saya, saya hanya pengen cepet-cepet sampai rumah,” doa saya waktu itu.

***

Shubuh belum tiba, hari sudah berganti, Rabu dini hari. Saya masih terjaga karena memang tidak bisa tidur. Adik saya telepon menanyakan jadi tidaknya saya pulang dan rencana bapak mau dibawa ke RS ketika saya sudah tiba nanti. Sekitar setengah jamnya, kakak saya telepon, dan inilah saat-saat di mana langit terasa runtuh, dunia menjadi gelap gulita dan saya menjadi lemas tak bersemangat.

“Kamu jadi pulang kapan?” kata kakak di ujung telepon

“Besok penerbangan jam 8 pagi,” jawab saya

“Kamu yang tenang, ditunggu di sini, sekarang bapak sudah nggak ada….” sahut kakak lagi.

Saya speechless, nangis sudah nggak terbendung lagi, tapi saya bisa berbuat apa? saya masih di Bandung! Ingin segera sampai rumah yang jaraknya lebih dari 600 km dari tempat saya berada saat itu. Saya hanya berdoa pada Allah untuk dikuatkan, dikuatkan dan dikuatkan. Saya tau kejadian ini pasti bakal terjadi, tapi saya tidak membayangkan jika kondisinya seperti ini.

Penerbangan yang awalnya pukul 8.15 terpaksa tertunda karena delay! Saya pakai jasa Air Asia dan lagi-lagi delay hingga 1 jam lebih, saya marah! marah tapi nggak tau marah sama siapa, percuma, toh dengan saya marah nggak akan membuat saya tiba-tiba di rumah. Di Bandara saya menangis, saya nggak peduli dengan keadaan sekitar. Ada bapak-bapak yang bertanya pada saya kenapa saya menangis, saya cerita, si bapak tersebut hanya berkata, “sabar.. sabar… sabar..”

Jam setengah 1 siang saya sampai di rumah, kaki saya merasa nggak kuat untuk melangkah ke rumah. Sanak saudara dan tetangga sudah berada di depan rumah, mereka satu persatu menyalami saya, “kamu yang sabar ya, ikhlaskan.. ikhlaskan…” begitu kata paman saya sambil merangkul saya.

Di dalam rumah, ruang tamu, keranda jenazah bertutup sudah siap, saya pertama kali tidak menuju jenazah bapak, tapi mencari di mana ibu. Budhe memeluk saya, saya menangis di pelukkan budhe, “sudah jangan nangis, bapakmu orang baik, alhamdulillah meninggalnya bagus, lihat nanti, wajahnya ganteng, tersenyum…” kata budhe.

Ibu datang, ibu menyembunyikan rasa sedihnya di hadapan saya dan orang-orang sekitar, ibu tegar banget, ibu memeluk saya, “kamu jangan nangis, kasihan bapakmu nanti, sudah ikhlaskan…”

Saya kemudian ke jenazah bapak, saya nggak bisa menjelaskan bagaimana perasaan saya waktu itu, saya cium jenazah bapak, saya belai rambut bapak, sampai puas, dalam bibir saya hanya mengucap, “pak maafkan saya, maafkan saya…”

***

Bapak dimakamkan di samping makam kakak, Alhamdulillah saya masih sempat mensholatkan dan mengantarkan bapak sampai ke tempat peristirahatan terakhirnya. Dalam hati yang paling kecil pasti masih ada rasa sesal dan sedih yang begitu mendalam, bahkan hingga saat saya memposting tulisan ini, sambil menetes air mata. Hubungan saya sama bapak memang dekat, maklum lah saya bungsu, sejak kecil sampai sekarang saya begitu dimanja bapak.

Saya ingat, waktu kecil bapak sudah membelikan saya Nintendo, barang mewah saat itu, tak semua teman-teman kampung saya punya konsol game klasik itu. Sebelum bapak pergi ke luar kota untuk bekerja, saya selalu diajak jalan-jalan, sekedar membelikan jajan yang sebenarnya juga masih bisa dibeli di warung-warung. Bapak orangnya tak banyak protes, memberikan saya kebebasan, termasuk memilih kerja di Bandung ini, “asal kamu senang dan nyaman lah” kata Bapak waktu itu.

Sebelum saya balik ke Bandung setelah peristiwa itu, rasa kehilangan makin mendalam. Biasanya bapaklah orang yang paling bawel untuk saya segera mempersiapkan diri keberangkatan, walau kereta berangkat jam 5, tapi dari jam 11 siang bapak sudah mewanti-wanti untuk segera bersiap agar tidak ketinggalan kereta. Bapak biasanya mengantarkan saya sampai statsiun naik taksi. Ya itulah Bapak, salah satu sosok yang paling saya cintai, sosok pahlawan pertama saya, sosok panutan dan idola saya. Saya tau benar bagaimana bapak bekerja membanting tulang untuk menyekolahkan anak-anaknya hingga perkuliahan walau bapak hanya lulusan pesantren.

Hari ini, tepat seminggu kematian bapak. Saya menangis nggak akan merubah keadaan. Saya hanya bisa berdoa dan berdoa untuk beliau, semoga diampuni dosanya, dilapangkan kuburnya dan diterima semua amalnya. Tak lupa saya juga berdoa untuk orang yang hatinya selembut embun dan pelukannya menentramkan jiwa, ibu saya. Saya tau ibu adalah orang yang paling sedih dibalik peristiwa ini, tapi ibu selalu berusaha menutupinya. Semoga ibu tetap sehat dan sabar 🙂

Masih banyak kenangan-kenangan saya bersama Bapak, mungkin saya akan cerita nanti di postingan saya selanjutnya.


Aksi

Information

2 responses

30 03 2014
sourceforge.net

In 2022, Qatar and the United States are bidding to host.

In the Usa, eighteen towns are seeking to host venues.

Qatar’s topic is a completely new sort of World Cup for 2022,
and they even have types of their first five stadiums on the bid web site.
If Qatar hosts, it will be the 1st World Cup in the
Middle East and 1 of the smallest international locations ever to host the match.
Japan and South Korea are looking to host yet again but it
could be way too before long from the 2002 match for them to have the World Cup once
again.

12 04 2014
168sdbet

Terima kasih gan atas informasinya, sudah beberapa hari ini saya mencari informasi ini, ini sungguh sangat membantu saya . mulai sekarang saya akan bookmark blog ini agar saya bisa kembali dan melihat informasi yang terbaru.
mungkin agan atau pengunjung blog agan juga membutuh kan infomasi dari saya, silahkan liat artilek saya yang sangat Mohon kunjungi website kami
Judi Online
http://www.168sdbet.com
Terima kasih

Balas Komentar Ini

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s




%d blogger menyukai ini: