Selalu Ada Alasan Atas Jalan yang Allah Takdirkan pada Kita

6 08 2015

jakarta_at_night11

Proses itu terjadi begitu saja, cepat dan mudah. Namun kecepatan proses itu berbanding terbalik dengan kemantapan saya memutuskan hal ini. Saya perlu berpikir sampai jungkir balik beberapa hari, Istikharah beberapa kali dan membutuhkan petuah-petuah dari teman-teman saya untuk meyakinkan hal ini.

Saya duduk memeluk lutut di pinggiran geladah sambil buka kembali postingan saya di blog sekitar bulan Juli 2011, jelang dan sesaat setelah saya memutuskan hijrah ke Bandung. Saya harap dengan ini saya mendapat secercah kepercayaan dan keyakinan untuk diri saya sendiri. Saya baca dan hampir tidak percaya kalau waktu itu juga masih ragu dengan keberangkatan ke Bandung waktu itu. Ya, di awal saya memang merasa homesick, hampir nggak tau harus gimana, mati kutu lah pokoknya. Teman-teman saya di Bandung waktu itu cuma satu, Ajul doang, selain dia, nggak ada (kecuali teman-teman kantor tentunya).

Saya belum bawa motor saat itu, nggak tau arah ke mana buat ke mana. Apa-apa pasti tanya sana-sini, pokoknya nggak tau apa-apalah. Hingga perlahan demi perlahan, teman saya mulai banyak, saya nekad nyasar dengan motor saya untuk tau jalanan Bandung. Saya tau kalau mau beli ini harus ke mana, kalau butuh itu harus gimana, saya pun mengembangkan komunitas dan bisnis, makin banyak lah teman yang saya kenal. Untuk semua itu, saya perlu waktu 4 tahun, saya membentuk kenyamanan dengan cara saya sediri hingga menjadikan Bandung sangat nyaman dan enggan untuk meninggalkan kota ini. Terlebih saat itu terbesit dalam pikiran saya untuk tinggal selamanya di Bandung.

Namun, itu semua kudu berubah saat ini. Saya sekarang di Jakarta, mengulang masa-masa itu kembali. Dan entah kenapa sebelum memantapkan diri pindah di Jakarta, saya merasa super galau memikirkan masalah ini. Saya nggak tau karena apa, saya merasa ini hal yang berat, bahkan sangat berat. Padahal saya di Jakarta lebih punya banyak teman dibanding dengan waktu pertama saya pindah di Bandung.

Comfort Zone Area

Saya sangat nyaman dengan aktivitas saya sehai-hari, lingkungan saya, teman-teman saya, hingga pekerjaan saya sebelumnya. Namun sebuah tuntutan dan keinginan untuk mencapai target dan impian saya mau tak mau harus mengorbankan kenyamanan saya itu sendiri. Saya harus meninggalkan teman-teman saya, komunitas, lingkungan dan pekerjaan. Jadi di sini seolah saya mendengar encore dari suatu tempat, “kawiiiin San, kawiiinnnn…. Sudah tua”

Jujur, saat-saat paling dramatis justru saat saya bilang ke atasan saya sebelumnya kalau saya mau resign. Saya nggak bisa basa-basi alias ngomong ngalor-ngidul untuk intro dengan pengunduran diri saya karena susah mulut saya untuk bicara gini, saking tegangnya. Tak disangka, perkataan atasan saya waktu itu justu membuat saya merasa sangat diapresiasi begitu besarnya, ini belum pernah saya dengar sebelumnya selama 1,5 tahun ke belakang. Mungkin atasan saya sangat menyayangkan keputusan saya, namun beliau tidak bisa mencegah keinginan saya.

Saat-saat dramatis berikutnya ketika hari terakhir saya kerja, waktu itu saya hanya bisa menguatkan diri saya, tahan San, tahan San, kalau nggak ditahan mungkin sudah tumpah air mata saya. Apalagi saat itu satu persatu teman-teman saya menyampaikan harapannya, “Saya harap hari Senin besok mas Hasan ke kantor, absen, hari Selasa juga, Rabu juga, Kamis dan begitu seterusnya” Itu salah satunya dan saya harus mengambil tissue mengusap air mata, saya bener-bener nggak suka perpisahan!

Well, akhirnya saya sudah memutuskan dengan bulat. Dengan berat hati, saya meninggalkan Bandung yang bersejarah bagi kehidupan saya. Ini karena Awal-awal mungkin saya merasa homesick, mungkin saya belum kenal lingkungan saya, mungkin saya belum tau jalanan di Jakarta, mungkin saya nggak tau kalau ini itu harus ke mana atau ada factor X lain yang membuat saya sangat berat meninggalkan Bandung.

Senasib dengan Oshi

Oke point ini boleh diskip saja ya. Ini tentang Shinta Naomi JKT48 yang harus melepas team K3-nya, menyerahkan kepemimpinannya kepada rekannya, Kinal. Tak hanya lengser, Naomi juga pindah team, dan sekali lagi bukan lagi menjadi Kapten, tetapi anggota di team baru-nya. Naomi mengakui ini hal berat baginya, namun harus bagaimana lagi, dia harus menjalankan keputusan JOT ini. Ini bisa jadi serupa dengan saya ya? Oke, ini diskip saja ya

Titik Cerah

Ibu sudah mengetahui hal ini, saya bilang kepada ibu ketika hari raya lebaran waktu itu. Ibu tidak mempermasalahkan hal ini, yang penting baik bagi saya. Yang ibu saya khawatirkan justru alasan saya keluar kantor sebelumnya karena konflik, tapi Alhamdulillah bukan itu. Hubungan saya sama teman-teman saya dan boss saya di kantor-kantor saya sebelumnya sangat baik. Restu ibu sudah didapat, lantas apalagi yang saya ragukan?

Kalau kata Om Allan, ayah Raisa yang waktu itu bilang pada saya, “Kerja itu tujuannya ada dua, kalau nggak cari ilmu ya cari uang, sekarang tinggal kamu pilih mana,” Saya tau filosofis dari pesan Om Allan, kita tidak harus dipusingkan dengan kondisi luar lingkungan pekerjaan kita, yang penting do the best, niat ibadah lillahi ta’ala. Saya juga heran entah kenapa sampai saya bisa menceritakan semuanya kepada Om Allan, waktu itu pas puasa juga saya bercerita tentang rencana kepindahan saya ini, beliau hanya bilang Alhamdulillah.

Saya tau ini semua pasti akan terjadi pada siapapun, umur berapapun. Semua orang pasti suatu saat harus keluar dari comfort zone, entah dalam hal yang bagaimana. Semuanya memang harus perlahan berubah, mengikuti jalan takdirNya, kita menjalani saja. Saya tau, Allah mengantarkanku sampai di sini untuk satu alasan yang jawabannya saya akan ketahui nanti setelah saya menjalaninya.

Saya nggak tau di sini sampai kapan, 3 bulan, 6 bulan, 1 tahun, 2 tahun atau bahkan selamanya? Yang jelas prinsip saya, ketika saya lelah saya harus bertahan satu hari lagi, satu hari lagi dan begitu seterusnya. Meminjam lirik lagu JKT48 yang Shonichi, “Impian ada di tengah peluh, bagai bunga yang mekar secara perlahan, usaha keras itu tak akan mengkhianati”

Doakan saya ya,…..





Lost in Pekan Raya Jakarta

10 07 2013

PRJ1

Foto di atas memang masih senyum sumringah, gembira dan bersemangat ketika dalam perjalanan di tol Cipularang menuju Jakarta. Hari itu, Minggu 7 Juli, saya dan beberapa teman saya (Famela, Hilman, Ali, Rena)  pergi ke Jakarta, tujuannya ke Bakti Sosial dan ke Pekan Raya Jakarta untuk melihat penampilan dari Raisa. Wajah gembira itu karena kita tidak pernah tau apa yang terjadi nanti, ketika siangnya, sorenya atau malamnya, andai kita tau apa yang terjadi nanti, mungkin saat diambil gambar foto itu, kita tidak segembira ini, memang ada apa sih? Ya, saya punya cerita seru kejadian hari itu.

Banyak agenda sebenarnya hari itu, dari pagi kita ikut Baksos yang diadakan oleh teman-teman yourRaisa, jam 1 siang acara sudah kelar dan langsung menuju ke JIExpo Kemayoran, lokasi PRJ 2013. Di sini pun saya ketemu teman-teman yang lain, seperti Ridwan, Euis, Mbak Layla, Lizti, Abie, Lutfi, dan masih banyak lagi. Sambil menunggu Raisa tampil sekitar pukul 8 malam, Famela membuka lapak Lidi Geli, heheee… Saya mau cerita sedikit mengenai Lidi Geli, ialah sejenis makanan lidi kala kita kecil dulu. Mungkin duku varian rasanya hanya pedas dan non pedas, namun kini bervariasi seperti keju, barbeque, maybe pizza, balado dan semacamnya. Pun demikian juga Lidi Geli yang punya banyak rasa namun dengan harga terjangkau.

lidigeli

Lidi Geli dirintis Famela belum lama ini, di sini lah tepat di parkiran PRJ, Famela membuka stand di mobil. Alhamdulilllah banyak yang beli, hihihiiii… 🙂

Kembali lagi ke PRJ, Jam 5 kita bersiap ke panggung utama. Walau acara jam 8 malam, tapi kita tetap menunggu di gerbang panggung utama, lumayan sebelum tampil ada beberapa karnaval buat hiburan. Jam 6 teng, pintu dibuka dan semua berkerumun ke panggung utama, kita bagian depan panggung banget, tak lupa banner pun di pasang menghadap panggung. Kita boleh memasang atas izin dari Pak Satpam yang di sana.

Jam 8 malam katanya tampil, namun molor hingga jam 9 malam. Bayangkan saja, dari mulai perform dance, terus penampilan 2 band lokal yang membawakan masing-masing 4 lagu yang sangat asing, belum lagi acara pembagian hadiah dan undian yang super lama. Kaki capek, berdiri lama, ahahhaaaa tapi gak apalah buat Raisa

Jam 9 Raisa tampil memukau, membuka dengan Serba Salah dan mengakhirinya dengan Could it Be. Hal beda diberikan Raisa adalah menyanyikan Padamu Negeri, mengingatkan saya waktu Java Soulnation 2012 tahun lalu.

PRJ

Usai Raisa tampil, kita dibingungkan bagaimana cara mengambil Banner. Bagaimana tidak? di belakang kita lautan manusia, tapi Alhamdulillah ada ‘orang dalam’ yang membantu kita mencopot banner. Hiruk pikuk pun terjadi, kita berusaha keluar dari arena panggung, melawan desakan manusia yang berlawanan arah. “Ketemu di Mushalla ya” kita satu komando.

Saya pribadi cukup riweuh keluar dari lautan manusia itu, hasilnya tas handycam saya hilang entah ke mana, tapi alhamdulillah bisa keluar dengan selamat dan dipertemukan dengan teman-teman semuanya.

Perjalanan menuju pintu keluar ini lah yang seru. Famela hilang! Saya memberi tau pada teman-teman yang lain, saya mencari Famela bersama Abie, Ridwan dan Euis. Sementara yang lain menunggu. Entah bagaimana akhirnya saya-Abie kepisah sama Ridwan-Euis. Saya dan Abie mencoba kembali ke tempat awal teman-teman tadi, tapi teman2 yang lain gak ada. Berarti kita kepisah jadi 4 kelompok. Saya-Abie, Famela, Ridwan-Euis, dan Ali-Hilman-Rena.. Saya coba hubungi mereka semua, eh HPnya malah gak aktif, di tambah HP saya juga lowbat. Sempat panik, karena sudah menunjukkan jam 11 malam, lapar, haus, bingung jadi satu!

Namun akhirnya semua bisa bersatu lagi, ya kuncinya keluar ke parkir mobil kita, hahaaa.. cukup simple 🙂 Berikut video rangkumannya.





My Simple Ways to Get Happy

12 05 2013

Sabtu pagi (04/13) saya pulang ke Gresik. Kepulangan kali ini bukan dalam rangka long weekend atau satu hal tertentu, mendadak sih iya! mendadak banget malah. Pikiran saya lagi kacau, otak penuh dengan kerjaan yang belum kelar serta terus dikejar target, saya butuh hiburan, dan satu-satunya hiburan yang cukup ampuh adalah dengan melihat wajah ibu dan bisa memeluk ibu.

Anak manja? ya saya sendiri nggak tau, toh ibu saya juga senang dengan kehadiran saya di rumah dengan disiapkannya segala makanan kesukaan saya. Ketika ditanya ibu, kenapa pulang, Nak? dan saya menjawab “mau datang ada acara kampus”

Dengan sempitnya waktu di rumah, saya memanfaatkan benar dengan merefresh otak saya, main sama ponakan saya, nganter kakak ke sana kemari, ngajak jalan keponakan satu per satu dan semuanya. Dan yang paling wah adalah dengan lihat performnya Raisa di acara kampus, Teknik Kimia ITS, Chernival Orange Day.

Rencana ini mendadak, sabtu itu di kost luntang-luntung gak jelas, saya sebenarnya tau kalau Raisa manggung di Surabaya, jadi entah pikiran apa tiba-tiba yang membuat saya membulatkan tekad untuk pulang, dan pulang lah saya, sampai keesokan harinya via bus. yang hampir memakan waktu 12 jam.

Pas Minggu pagi (05/13) sampai rumah, saya dihubungi si mas adit, temen koplak yang sama-sama juga yourRaisa, dia dari Surabaya. Saya diajak ke Graha Pena sama temen-temen yR Surabaya lainnya untuklihat Raisa interview di Gen FM. Tapi kondisi saya capek bangeeet, jadi saya nggak ikut karena istirahat. Sorenya pun saya cabut dari rumah ke Sutos, saya pamit ke Ibu buat nonton acara kampus yang ada Raisa nya, “jangan malam-malam pulangnya” kata ibu 🙂 Ya itulah ibu saya, walau saya segedhe sekarang perhatiannya gak berkurang,

Jujur, Sutos itu asing bagi saya. Selama 6 tahun hidup di Surabaya saya hanya mengenal Delta Plaza, Tunjungan Plaza, Galaxy Mall, dan Sakinah Super Mall, Mallnya arek ITS. Itu pun ke sana bukan buat ngeceng, tapi untuk nonton. Jadi, karena masih asing, saya hanya meraba-raba jalan dari rumah ke Sutos, bekalnya cuma Google Maps dan perkataan teman, “jika sudah sampai Taman Bungkul, putar balik, terus belok kiri terus”

Jalan gak semulus yang diharapkan, sampai di jalan Blauran, harus belok kiri lagi karena jalan Praban ditutup, terpaksa muter lagi ke arah Tugu Pahlawan kemudian ke jalan Pahlawan terus menuju arah Grahadi, sialnya lagi pas sampai di Hotel Majapahit, macet parah! jalan hanya sedikit demi sedikit, saya menerobos dan berhasil sampai di depan, rupanya macet disebabkan oleh satuan kebersihan yang sedang membersihkan jalanan, payah!

Saya melaju terus mengikuti instruksi teman saya, pas sampai di Taman Bungkul, rupanya saya muternya terlalu jauh, hahaaa.. tapi alhamdulillah gak nyasar, karena saya juga sempet nanya ke orang waktu di lampu merah, “arah Sutos itu sebelah mana ya, Bu?” si ibunya malah nanya balik, “lho koen iku arek endhi sih kok gak eruh Sutos” (kamu itu anak mana kok gak tau Sutos?) Akhirnya ibu itu  baik hati dan menggiring saya ke Sutos tepat pas Adzan Maghrib.

Singkat cerita saya ketemu si mas adit, pemilik akun @thomasaquionoo. Seneng sih, senangnya tuh bisa ketemu teman yang awalnya kita kenal di dunia maya koplak-koplakan, terus di dunia nyata ketemu, hahaha aslinya sama edannya kayak di Twitter. Mas Adit juga mengenalkanku dengan teman-teman yR Surabaya yang lain, dan kita semua memilih di paling depan panggung untuk menyaksikan Raisa.

Saya yakin pasti ada yang beda di setiap perform Raisa. Saya sendiri selama ini hanya merasakan aura penonton yang menyaksikan Raisa di Bandung dan event-event Java Jazz atau Soulnation. Saat menyaksikan di Surabaya, bedanya ya kanan kiri orang jawa, ngobrol dengan kanan kiri ya pakai bahasa jawa, selama ini saya pakai bahasa Indonesia, hahaha.. Aura kehebohan pun gak kalah heboh dengan Bandung. Hampir semua rekaman di video saya, suara Raisa tidak terdengar karena riuh suara penonton yang turut mengiringi Raisa nyanyi, luar biasa! Dan pada live perform di acara yang bernama Orange Day Chernival itu, Raisa melakukan aksi lucu ngomong bahasa jawa. Saya pun tidak mau melewatkan moment-moment ini

Dan berikut ini adalah dokumentasi saat Raisa manggung di Chernival Orange Day Teknik Kimia ITS, foto ini saya ambil dari berbagai sumber yang ada di Twitter

foto ini saya ambil dari berbagai sumber yang ada di Twitter

foto ini saya ambil dari berbagai sumber yang ada di Twitter

Jam 10an acara kelar, dan saya serta beberapa teman yang lain langsung menuju warung kopi dekat parkitan motor Sutos, karena sudah malam dan besok hari Senin beraktivitas kembali, kami berpisah 😦 saya sendiri besok pagi juga ke harus balik ke Bandung lagi.

***

Sabtu (11/13) tentu saya sudah di Bandung dong, beraktivitas kembali. Nah pas hari Sabtunya ini Raisa manggung lagi di Bandung, dalam rangka ulang tahun Radio B yang ke-10 di Ciwalk. Saya pun nonton lagi, walau teman seperjuangan si Dini gak ikut kali ini. Jadi nontonnya sama-sama temen sebelumnya, si Shandy, si kembar Rena-Reni dan Neng Ine. Lucunya walau berkali-kali ketemu saya tidak bisa membedakan mana Rena dan mana Reni, dan panggilan ‘kesayangan’ buat Ine dari kita adalah Neng Ine, mungkin ini didasarkan atas nama Twitter Ine itu sendiri.

Datang pas jam 6.15 WIB, langsung ada penampilan Soul Sister. Saya berpikir kalau tiap perform ada 8 lagu, wah mau jam berapa si Raisa on stage nya? Namun, Soul Sister, Adera dan Duo Maia masing-masing 4 lagu. Cukup panik sih saat Adera manggung, hujan cukup deras, namun hebatnya penonton gak menyingkir dan tetap di depan panggung walau hujan-hujanan.

foto ini saya ambil dari berbagai sumber yang ada di Twitter

foto ini saya ambil dari berbagai sumber yang ada di Twitter

Jam 7.40 WIB, Raisa tampil hebat menggalaukan Ciwalk. Semua single-nya dibawakan di atas panggung dengan apik, Pergilah, Melangkah, Serba Salah, Terjebak Nostalgia, Firasat, Apalah Arti Menunggu dan Could it Be dibawakan Raisa dan disambut dengan riuh suara penonton yang nyanyi bareng-bareng. Lalu apa yang membedakan stage Raisa kali ini? salah satu istimewanya adalah di atas panggung ini Raisa menyanyikan lagu Happy Birthday kepada Radio B secara live, nyanyi! beda dengan performer sebelumnya yang hanya sepatah dua kata saja. Ohya, seperti biasa saya hanya merekamnya dan berikut salah satu perform Raisa yang berhasil menggalaukan Ciwalk

Saya cukup senang dengan melihat perform Raisa, bagi saya ini sebuah Mood Boosters untuk aktivitas saya mendatang. Bagi orang lain cari hiburan mungkin dengan ngegame, jalan-jalan, nonton bioskop atau yang lain, nah saya cari hiburan ya gini, ngelive Raisa, menulis atau ngeblog, bikin video, atau kumpul-kumpul dengan sahabat. I learn how to appreciate my life the way it is.





Sejuta Pesona Tempat dan Obyek Wisata Bandung

7 05 2013

Kota Kembang kini menjadi daftar objek kota wisata favorit, baik wisata alam, kuliner, belanja, semua ada di Wisata Bandung, dari Utara hingga Selatan. Mau ke Bandung? Baca dulu postingan saya ini.

Bicara mengenai Bandung, saya mau cerita dulu awal bagaimana hingga saya bisa menginjakkan dan tinggal di Bandung. Juli 2011 saya mendapat kesempatan untuk kerja di Bandung, tidak perlu pikir panjang untuk mengiyakan tawaran tersebut, karena bidang pekerjaannya adalah pekerjaan saya saat itu, dan Bandung sendiri menjadi daya tarik sendiri bagi saya, di saat orang lain berpikiran untuk bekerja di Jakarta, tapi saya yakin Bandung bisa jadi kampung halaman saya yang kedua. Wisata Bandung menjadi salah satu alasan kenapa saya tak ragu memilih Bandung tempat mengais rejeki dan mewujudkan cita saya.

Seperti yang kita tahu, bulan Juli 2011 waktu itu bertepatan dengan sebulan sebelum bulan Ramadhan,  jadi saya tak banyak tau mengenai wisata di Bandung, kecuali yang dekat dengan tempat saya tinggal (saya tinggal di Buah Batu, Bandung), yakni kawasan Trans Studio Bandung itu sendiri. Saat itu saya hanya bisa memandang tempat ini dari Bandung Super Mall (saya saat itu mau ke XXI atau Gramedia), hanya bisa memandang dan mendengar teriakan orang yang naik wahan Racing Coaster. Keinginan berkunjung sih pasti ada, namun  masih belum pengen banget.

kawasan wisata terpadu Trans Studio, Bandung

kawasan wisata terpadu Trans Studio, Bandung

Setelah rentang waktu itu, petualangan saya mengunjungi obyek wisata di Bandung dimulai. Wisata di sini bukan hanya berwisata sekedar rekreasi liburan beberapa hari gitu, namun lebih diartikan bagaimana cara menghilangkan penat setelah seharian bekerja. Salah seorang rekan saya mengajak saya ke Braga Festival 2011 waktu itu, dari event tersebut saya jadi tau gambaran kota Bandung secara keseluruhan, dalam arti gambaran Bandung ketika jaman dulu hingga modern saat ini.

Dari event Braga Festival 2011, berlanjut ke ajang Kick Festival 2011. Saat KickFest ini saya pertama kali melihat Gedung Sate secara langsung. Sejak saat itu saya menyimpulkan kalau saya yang tinggal di Bandung ini tidak akan kehilangan cara bagaimana sekedar refreshing, karena hampir tiap bulan, ada gelaran event menarik di Bandung, jika tidak ada kita pun bisa mengunjungi wisata Bandung yang lain, secara sederhana, sesederhana kita mengunjungi ke Car Free Day di Dago berlanjut ke Gasibu minggu pagi.

Sejak saat itu, berbagai tempat wisata di Bandung satu persatu saya kunjungi. Lembang, yang dulu saya melihat di film Petualangan Sherina, kemudian kawasan wisata alam lainnya yakni Gunung Tangkuban Perahu, juga mall-mallnya seperti Bandung Super Mall (sekarang Trans Studio Mall), Paris Van Java (PVJ), Bandung Indah Plaza (BIP), Braga City Mall, Ciwalk, dan wisata belanja super murah di Pasar Baru atau jalan Dewi Sartika.

Jelang awal Juli 2012, tepat saya setahun di Bandung, saya berkesempatan mengunjungi tempat  yang pernah saya impikan pertama kalinya saat mengunjungi Bandung, yakni Trans Studio Bandung. Cerita bagaimana saya sampai di tempat ini  pernah saya ceritakan dalam postingan yang lalu, singkatnya sih provider yang saya pakai mengajak saya berkunjung ke Trans Studio secara gratis.

Seru sih pas mau berkunjung ke Trans Studio ini, karena waktu itu bertepatan dengan kunjungan Pak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan Trans Studio Mall dan katanya juga berkunjung ke wisata indoor paling spektakuler ini. Bayangkan saja, dari kost yang mungkin 5 menit saja ke Gatot Subroto, kini macet dari kawasan Turangga, saya lebih milih jalan akhirnya, namun Alhamdulillah tidak telat.

Saat masuk pertama kali di Trans Studio Bandung yang berada di lantai 2 Trans Studio Mall itu, saya takjub saja dengan sambutan pihak Trans Studio kepada Pak Presiden.

Sambutan Trans Studio kepada Presiden RI

Sambutan Trans Studio kepada Presiden RI

Tak perlu lama menunggu sih, saya bersama teman saya, si Panji dan rekan lainnya langsung masuk ke tempat ini setelah dapat tiket, waktu itu jam 2 siang. Wahana yang pertama saya coba adalah Vertigo, karena memancing adrenalin dan antri tidak begitu panjang. Saya bukan tipe orang yang takut ketinggian, bukan pula orang yang tipe ekspresif, jadi sebenarnya jika naik Vertigo, saat badan diombang-ambingkan, sebenarnya saya diam saja bisa, tapi entah kenapa kok pengen teriak-teriak biar lega.

Wahana Vertigo Trans Studio Bandung

Wahana Vertigo Trans Studio Bandung

Wahana Giant Swing Trans Studio Bandung

Wahana Giant Swing Trans Studio Bandung

Setelah Vertigo, lanjut ke wahan sejenis, yakni Giant Swing. Cukup lama antrinya, namun puassss banget  setelah badan remuk diputarbalikkan, diombangambingkan, memutar ke atas bawah, teriak puas, keren! Lanjut lagi ke Dunia Lain, di sini seram-seram gimana gitu, sejak masuk ke dalam gua saja suasana sudah dibuat mencekam, dengan penerangan seadanya, penjaga yang berjubah, pigura foto yang menyeramkan, dan kadang ada pengunjung lain yang lebay berteriak heboh sendiri tentu membuat kaget.

Nah, pas naik kereta Dunia Lain, saya cuma bisa menatap sekeliling saya, tidak bergeming ataupun tidak mengajak bicara orang yang di samping saya. Hingga pada akhirnya, saat ada pohon besar dan rumah, saya begitu merinding, walaupun di sekeliling tidak ada apa-apa yang saya lihat. Wisata Bandung ini begitu luar biasa dahsyat menakutkan!

Wahana Racing Coaster Trans Studio Bandung

Wahana Racing Coaster Trans Studio Bandung

Tepat jam 6 sore sebenarnya mau ke Special Effect, namun overload. Ini membuat saya dan teman-teman langsung menuju Racing Coaster yang sebentar lagi buka wahananya. Ini sih yang sebenarnya menurut saya menjadi khas dan tak boleh dilewatkan ketika kamu berkunjung ke Trans Studio. Antrinya memang lama, namun suasana deg-deg dimulai ketika saya duduk di keretanya, saya kebetulan kebagian paling depan waktu itu. “Tiga.. Dua.. Satu…” Valentino Rossi memberikan aba-aba, kereta melaju secara perlahan, bertambah kecepatan, dan makin cepat melewati rel yang berkelok-kelok. Puncaknya ketika kereta seperti menjangkau langit, mata saya pas di depan, saya bisa melihat bulan dengan jelas, saya seperti mau ke bulan, namun tiba-tiba kereta seperti tak kehabisan bahan bakar, dan turun drastis dari atas ke bawah, mundur ke belakang dengan kecepatan super berbalik kembali ke awal mula di mana saya naik tadi, saya berteriak lepas, tertawa dan bertepuk tangan, begitu juga dengan pengunjung lain, pertanda puas.

Setelah puas, saya pun pulang…

Tapi ini bukan yang pertama dan terakhir saya berkunjung ke tempat paling cetar membahana itu, bulan Desember-nya, saya diundang dengan keperluan yang sama oleh provider yang sama juga, hahaa… Nah, pada kunjungan ini saya lebih rileks dan tidak seantusias kunjungan sebelumnya. Saya mengunjungi beberapa wahana yang terbilang santai-santai saja, seperti Si Bolang the Rides, Trans Broadcast Museum, Science Center, dan Jelajah. Berikut beberapa dokumentasi kunjungan saya ke Trans Studio Bandung untuk yang kedua kalinya tersebut:

Wahana Bolang Trans Studio Bandung

Wahana Bolang Trans Studio Bandung

Wahana Trans Broadcast MuseumTrans Studio Bandung

Wahana Trans Broadcast MuseumTrans Studio Bandung

Sebenarnya masih banyak  yang ingin saya ceritakan, seperti kawasan wisata Alam di Ciwidey, Kawah Putih yang sangat eksotis. InsyaAllah di lain kesempatan saya cerita tentang wisata di Kota Bandung  yang lain. Ohya, jika kamu ingin mengunjungi kawasan terpadu Trans Studio, siapkan stamina, saya sarankan lebih baik dari pagi hari.  Tempat ini buka setiap hari lho, untuk tiketnya: Weekdays – 150K IDR dan untuk Weekend & Holiday – 250K IDR. Anda juga bisa membeli VIP Access, sehingga tidak perlu mengantri di wahana-wahana menarik Trans Studio Bandung.

<a href="https://plus.google.com/u/0/105709482233119031937?rel=author">Google</a>




Firasat: Jamaah Superindo

25 04 2013

Judul di atas bukan bermaksud yang agak gimana gitu, nggak ada maksud apa-apa, cuma yang ada di kepala saya saja yang langsung saya tulis dan mumpung ada inspirasi buat mengisi kekosongan blog saya ini. Judul di atas ada makna tersendiri, Firasat memang berasal dari lagu yang tengah saya putar ketika menulis postingan ini, sedangkan makna Jamaah Superindo ini akan saya ceritakan di bagian bawah paragraf setelah ini. Kalau tulisan judul “Jamaah Superindo”-nya sendiri saya kurang enak terdengar hanya 2 kata saja, mangkanya saya tambahin Firasat 🙂 Ingat, Jamaah Superindo bukan bagian dari aliran eyang subur atau ajaran aliran-aliran lainnya.

Alkisah di kantor saya hidup berbagai karakter orang-orang yang ada, ada yang pendiam, ada yang rame, ada yang alim, ada yang frontal, ada yang gaul, ada pula yang omes (otak mesum) ada juga yang cantik lho! Saya sendiri termasuk orang yang pendiam, baik hati, dan gak macem-macem. Nah, tentu menjadi hal yang wajar jika hidup dalam sebuah habitat (kalau ingat jaman Biologi dulu) ada koloni, kelompok atau geng lah bahasa kerennya, tapi geng di sini bukan dalam arti bermusuhan, kita sekantor hidup berkeluarga, hanya saja dalam saat-saat tertentu memang lebih sering ngobrol bareng. Berikut adalah 4 kelompok besar yang ada di kantor saya:

1. Jamaah Masjid: Berisi orang-orang yang tiap Dhuhur dan Ashar selalu sholat berjamaah di masjid

2. Best Four: Berisi orang-orang yang kalau jam istirahat merokok dan berkumpul di kamar atas atau warung si ibu sebelah kantor

3. Jamaah Superindo: Berisi orang-orang yang tiap jam istirahat suka keluar makan ke Superindo Piset Square, entah beli yang ada di dalam Superindo, atau di sekitar Superindonya.

Berhubung saya tidak merokok dan belum sering ke masjid, jadi saya ngikut Jamaah Superindo. Istilah Jamaah Superindo sendiri muncul gitu saja secara spontan. Namun bukan berarti kita ke Superindo terus nggak Sholat, itu merupakan kebutuhan, Fardhu Ain lah, jadi kita ke Superindo tapi sebelumnya Shalat berjamaah dulu di kantor. Jamaah Superindo sendiri berisi saya, Irfan, Kang Agien, Adod, Kang Harry dan Teh Rica. Kita berenam dan entah kenapa ketika berjalan dari kantor menuju Superindo, saya seolah membayangkan kami adalah jeng jeng……Power Rangers.

ninja

Kenapa Ninja Storm? karena jumlah mereka ya 6 orang, ceweknya satu orang.

Sebenarnya, dari 6 orang ini, saya adalah satu-satunya team content, sedangkan mereka berlima adalah team programmer. Jadi ketika mereka bicara API, markdon, source code, HTML code, coding, saya nggak ngeh. Nah, si Kang Agien adalah leader, karena beliau lebih berpengalaman dari kami semua, beliau sering kasih sharing pengalamannya baik kerjaan atau masalah kehidupan. Si Irfan adalah imam, dia menjadi Imam ketika Shalat berjamaah. Adod adalah inventaris kantor, dia tak lepas dari gadget game-nya, Kang Harry bapak Manager paling jangkung dan paling sering ngebully saya, terus ada yang paling cantik Teh Rica, ibu hamil yang punya selera humor yang tinggi di setiap commentnya.

Ritual kami setiap selesai Shalat Dhuhur pada jam istirahat adalah mencari makan. Kalau nggak ada duit mungkin beli Podomoro di dekat kantor yang dikenal porsi yang banyak banget, jadi beli satu buat berdua, hahaaa. Atau kita beli Nasi Padang 9000, Mie Yamin Superindo, atau warung si Ibu sebelah beli Lotek. Tapi sesekali yang seru adalah ketika ada duit awqal bulan, beli di Gokana, BMK, Mie Akung atau Mie Kocok Mang Daeng di Jalan Banteng. Kebetulan kantor tempat strategis, jadi gampang buat cari kuliner makanan enak.

Hmmm, tapi sampai saat ini kita belum sempat foto bareng, …..





Gathering Forum #NgobrolBareng @IndosatJabar di Trans Studio Bandung

1 12 2012
Forum Ngobrol Bareng Indosat

Forum Ngobrol Bareng Indosat

Saya tidak pernah kehabisan cerita menulis tentang Indosat, termasuk postingan kali ini, saya juga akan menceritakan Gatering Indosat Forum Ngobrol Bareng di Trans Studio Bandunng, Sabtu 1 Desember 2012 tadi, masih anget-angetnya nih dan mumpung masih euforia dan kebawa serunya,jadi saya posting sekarang saja ya.

Hari Selasa, 27 Desember saya dapat telepon dari Bang Indra Indosat, saya sudah kenal karena sebelumnya pernah ketemu di Liburan bersama Indosat Jabar bulan Juli yang lalu, Bang Indra mengundang saya untuk datang di acara Gathering Ngobrol Indosat, entah sebagai apa, setelah diusut-usut ternyata baru ngeh kalau blog saya ini menjadi finalis Mentari Blog Competition mewakili Bandung, tapi belum menang. Invitation diemailkan dan langsung saya print waktu itu juga.

Sabtu 1 Desember pagi2 berangkat, karena tempat saya dekat banget dengan lokasi Gathering, maka ya gak terlalu lama nyiapin segala sesuatunya, mandi saja jam setengah 9, trus sampai di sana mepet banget dari jadwal jam 9 pagi. Sampai di sana bingung setengah mati, gak ada yang kenal satu pun, Panji yang waktu dulu saya temui di liburan sebelumnya gak ada. Saya juga ngerasa salah tempat, yang hadir waktu itu di dominasi oleh para remaja-remaja, saya belum menemui orang yang seumuran atau paling gak lebih tua lah bair nyambung diajak ngobrol.

Lima menit, sepuluh menit, lima belas menit saya menunggu tapi belum ada yang saya maksud, semua peserta sudah masuk ke TSB, akhirnya saya juga masuk sendiri, registrasi dapat kaos, dan menyendiri di pojokan. Akhirnya ta lama setelah itu ada cewek yang seumuran sepertinya, namanya diketahui bernama Evi. dan untungnya dia juga lagi bermasalah dan seperti alien di tengah forum ini.

Iya dari tadi nyari yang seumuran, sepertinya yang di sana teenager semua, jadi saya bingung kalau ke sana, hehehe…” jelasnya

Indosat dan Trans Studio Bandung

Indosat dan Trans Studio Bandung

Akhirnya sepanjang acara saya sama Evi, dan si EVi ini kebetulan juga kenal sama teman-teman dari Bloger dan Online Jurnalis yang diundang, jadi juga gabung sama mereka. Sementara remaja-remaja yang saya maksud ternyata adalah Mobile Academy Inodsat 2012 dari Jawa Barat yang memang sudah biasa hadir dan sering ngumpul pada acara-acara Indosat, jadi wajar jika mereka akrab karena emang sering ketemu.

MC dari TSB yang Cetar Membahana

MC dari TSB yang Cetar Membahana

Ke-130 peserta, semua pake dresss code kaos keren dari Indosat, keren asli! walau sederhana tapi desainnya elegan kece badai! Lalu kita semua diarahkan ke gedung Special Effect. Dan acara pun dimulai dengan dua MC yang menurut saya lebih seperti personel Trio Macan karena rambut panjang dan dicat pirang itu, hehehe maaf Teteh -,-v

Satu persatu dari petinggi Indosat presentasi mengenai Forum Ngobrol Bareng Indosat ini. Memang sejak resmi diluncurkan tanggal 12 September 2012 di Jakarta, forum ini makin ramai dan makin diakui keeksistensiannya. Hingga saat ini anggotanya ada 2600 orang dan lebih dari 16500 postingan. Indosat pun tidak main-main dalam membuat Forum Ngobrol Bareng ini, karena menggunakan Lithium, yang juga digunakan brand-brand besar seperti Google, Skype, Lenovo, HP, Mc Donald dan lainnya.

Hal yang paling mengasyikkan dari Forum Ngobrol Indosat di sini adalah adanya Solusi Baru, di sini kamu bisa menemukan solusi-solusi terbaru dari permasalahan gadget yang kamu gak usah nyari lagi, tapi sudah dikumpulkan oleh moderatornya langsung. Hebat bukan? Satu lagi, masalah yang diajukan dan jawabnnya pun dari pelanggan dan oleh pelanggan, jadi lebih obyektif karena dari pelanggan langsung.

Selain presentasi-presentasi dari Indosat, Tukang Ngobrol (sebutan untuk pengguna Forum Ngobrol Bareng Indosat) yang hadir di Special Effect dimanjakan oleh sajian hiburan dari Trans Studio Bandung, seperti sexy dancer, hip hop dancer, magician dan game-game yang berhadiah kaos dan merchandise dari Trans Studio Bandung.

Game yang Spektakuler

Game yang Spektakuler

Terus Indosat gimana? Bukan Indosat namanya jika nggak bagi-bagi hadiah keren. Sebelum makan siang, Bang Indra mempresentasikan Program Amazing Race yang berhadiah door prize Sony Xperia, LG Optimus, dan jutaan Voucher Indosat.

Amazing Race Ngobrol Bareng Indosat dan Trans Studio Bandung adalah program Indosat di mana Tukang Ngobrol ditugaskan untuk mencari pin Ngobrol Bareng. Pin tersebut akan diberikan petugas jika telah melewati wahana, namun hanya ada 13 dari 20 wahana yang terdapat pin tersebjut, dan kita tidak tahu wahana mana yang ada pinnya tersebut. Tukang Ngobrol juga diwajibkan check point dgn mention @IndosatJabar jika telah mendapatkan pin tersebut. Dan gadget akan diberikan buat yang kumpul pin terbanyak nanti.

Ada Super Doorprize lagi, ada 3 tas yang diberikan kepada peserta ke-7 dari wahana tertentu. Tas ini bisa ditukarkan dan kau tau tas ditukarkan dengan apa? dengan LG Optimus Android pemirsa, menggiurkan!

Jujur,saat itu habis makan siang. Saya yang sama Evi sepakat untuk tidak naik ke wahana yang tubuh diombang-ambingkan macam Vertigo atau Giant Swing. Pertama yang dikunjungi adalah Jelajah, nah sebelumnya kita berpikiran Jelajah adalah yang naik ke kapal di atas tersebut, tapi nyatanya setelah mau masuk antrian paling depan kita tau kalau Jelajah itu yang basah-basahan, “masa mau balik ini?” ya sudah lanjut saja.

Pas naik Jelajah saya sama Evi milih yang di tengah, di depan ada 2 Tukang Ngobrol, di belakang ada 2 lagi yang tidak tau siapa. Pas naik pertama kemudian jatuh meluncur di depan semua bertanya2, “ini kok nggak basah,” ternayta belum. Di selanjutnya ada yang lebih tinggi dan curam lagi yang tentu akan membuat basah2an, hahahaa ketawanya seneng dan puas banget teriak2 gitu setelah kereta dihempaskan terjun ke bawah.

Ini pinnya mana? Saya berpikiran pin akan diberikan di pintu keluar dan ternyata gak ada pin. Bukannya gak ada, tapi kelewat petugas yang bertugas memberikan pin. Sadarnya baru diluar, dan tak munkin balik lagi 😦 akhirnya di wahana pertama gak dapat pin.

Saya berpikiran gini, waktu Amazing Race yang diberikan adalah 1,5 jam. Sementara antri di Wahana sendiri 15 – 30 menit, jadi maksimal hanya bisa dapat 3-4 pin saja. Rata-rata pasti demikian! Ya sudah, akhirnya kita milih wahana yang tanpa antri dan Rumah Science adalah jawabannya. Saya dan Evi mencari petugas berpin Ngobrol Bareng, dan akhirnya nemu kakak petugasnya di ruang Matematika Bab Topologi.

“Di sini nggak ada pin, tapi dapat penghargaan, bentuk hadiahnya kurang ngerti, nanti dipilih sama Panitia Indosat katanya. Tugasnya yaitu dengan memecahkan kasus ini,” kata Kakak Petugas

Ada semacam bentuk-bentuk dari kayu yang bertali, salah satu bagian yang lebih kecil harus dipisahkan dari yang lebih besar. Di sini saya berhasil memecahkan dua kasus. Kakak petugas tadi nyuruh saya ngisi data nama alamat no hape dan ID Twitter, yang katanya nanti dibuat data untuk dipilih panitia dari Indosat yang gak tau maksudnya apa.

Keluar dari Rumah Science malah membuat saya dan Evi kurang bersemanagt, waktu tinggal sedikit lagi. Saya sama Evi kemudian untuk masuk ke tempat yang tanpa antri atau yang antrinya sedikit, masuklah ke Studio Trans, tapi karena gak ada pin ya jadinya foto-foto saja, hehee…

berfoto di depan Trans 7

berfoto di depan Trans 7

berfoto di depan Trans TV

berfoto di depan Trans TV

Wahana terakhir adalah si Bolang, ini sebenarnya wahana anak-anak, namun dipilih karena antrinya sedikit dan kata petugasnya juga ada pinnya. Masuk lah saya ke sana, setelah naik kereta memori saya mengingatkan pada kelas 2 SMA dulu saat berkunjung ke Dufan ke wahana Istana Boneka, ada pulau-pulau di Indonesia dan juga suara khas Bolang, “halo teman-teman…”

Amazing Race berakhir, semua peserta berlomba-lomba menukarkan pin dgn hadiah, ada yang dapat pulsa, poloshirt, dan gadget-gadget tersebut, hmmm mungkin sudah rejeki mereka ya, beruntung sekali….

Setelah pembagian hadiah, acara berakhir… luar biasa sekali Indosat dalam memanjakan pelanggannya. Saya memang satu pelanggan Indosat dari sekian juta orang yang beruntung diajak Gathering di Trans Studio Bandung ini dan itu saja saya merasa cukup beruntung, apalagi di sana saya juga dapat kenalan-kenalan baru dari Bloger atau Online Jurnalis lainnya. Terima Kasih Indosat 🙂

Indosat Bandung Area

Indosat Bandung Area

Oh iya, buat kamu yang penasaran apa sih Ngobrol Bareng Indosat itu? klik saja http://ngobrol.indosat.com, daftar dan jelajahi apa-apa yang ada di dalamnya, InshaAllah ini forum positif yang tak yang tak hanya memberikan pengethuan Anda soal gadget dan teknologi, tapi ada topik lifestyle, hobby, film, musik yang bisa Anda temui di sana. Dan tak lupa, kamu bisa mendapatkan teman-teman baru lho, ayo daftar di Ngobrol Bareng Indosat, jangan lupa ajak teman-teman Anda juga 🙂

Forum Ngobrol Bareng Indosat

Forum Ngobrol Bareng Indosat





Sad Movie That Will Make You Cry

15 01 2012
di-bawah-lindungan-kabah

di-bawah-lindungan-kabah

Sebenarnya film ini sudah direkomendasikan si Ijal sama saya beberapa waktu yang lalu, ada 3 mingguan file film ini terbenam di komputer, belum saya apa-apakan, melihat cuplikannya secara sepotong-potong pun saya enggan, mungkin karena saking sibuknya saya sehingga saya bener-bener belum menyentuhnya.

Barulah pada hari Sabtu, 14 Januari 2012 kemarin, saya sempatkan nonton film. Awalnya saya nonton film Khalifah, yang Marsha Timothy bercadar itu, karena bernuansa religi sehingga saya langsung keingat ada satu file film yang tersimpan dlaam direktori E dalam komputer.

Di Bawah Lindungan Ka’bah, itulah judul film tersebut. Saya sudah pernah mendengar film itu, bahkan ponakan saya yang bernama Azhari waktu saya mudik lebaran kemarin sempat mengajak saya nonton film ini, namun entah kenapa saya menolaknya. Dan baru kali  inilah saya menonton film tersebut.

Sekitar siang, menjelang Dhuhur saya menonton film ini, saya duduk tenang di depan komputer, pake headset dan kebetulan memang saat itu sepi, jadi saya bener-bener konsentrasi ikuti jalan ceirta ini. Detik tiap detik saya ikuti, saya akhirnya tau, siapa Hamid, siapa Zaenab, bagaimana ceritanya hingga beberapa scene cukup membuat mata saya sembab, hampir netes air mata saya, tapi saya hapus sama tissue 😛

Nah, pas adegan Ibu nya Hamid meninggal dunia di atas kereta yang dikendarai Hamid, barulah saya nangis, bukan hal yang konyol, tapi entah kenapa saya bener2 nangis. kenapa? tentu saya keingat ibu saya di rumah, sebelumnya memang ibu saya memang sakit, infeksi saluran urine, beliau nggak bisa buang air kecil, diselang, ditambah lagi cuaca di rumah lagi dalam keadaan dingin, ibu saya paling nggak betah dengan cuaca seperti itu.

Pas saya nangis itu, kebetulan teman-teman yang seruangan sama saya lagi pada mau Sholat, lantas ngajak saya sambil nanya, “film naon sih san?”

Saya nggak jawab, namun teman-teman ngelihat setumpuk tissue bekas lap dari air mata. Nah lho, jadilah saya menjadi issue hangat di sini, “tingali hasan nangis,”

Saya nangis ngelihat si Hamid yang memeluk ibunya, di akhir hidup ibunya, di atas kereta yang perjalanan menuju pulang, Ibunya sudah lama sakit, namun Hamid nggak bisa menemani karena diusir dari kampungnya. Dan di scene itulah saya bener2 nangis. Ini film bener2 membuat saya nangis hebat!

Sebenarnya, letak inti dari semua ini adalah ketika keadaan film tersebut sesuai dengan keadaan kita, di mana hal terburuk diceritakan  dalam film itu. Saya terlalu melankolis memang, tapi itulah saya! Saya bangga menjadi diri saya sendiri