Selalu Ada Alasan Atas Jalan yang Allah Takdirkan pada Kita

6 08 2015

jakarta_at_night11

Proses itu terjadi begitu saja, cepat dan mudah. Namun kecepatan proses itu berbanding terbalik dengan kemantapan saya memutuskan hal ini. Saya perlu berpikir sampai jungkir balik beberapa hari, Istikharah beberapa kali dan membutuhkan petuah-petuah dari teman-teman saya untuk meyakinkan hal ini.

Saya duduk memeluk lutut di pinggiran geladah sambil buka kembali postingan saya di blog sekitar bulan Juli 2011, jelang dan sesaat setelah saya memutuskan hijrah ke Bandung. Saya harap dengan ini saya mendapat secercah kepercayaan dan keyakinan untuk diri saya sendiri. Saya baca dan hampir tidak percaya kalau waktu itu juga masih ragu dengan keberangkatan ke Bandung waktu itu. Ya, di awal saya memang merasa homesick, hampir nggak tau harus gimana, mati kutu lah pokoknya. Teman-teman saya di Bandung waktu itu cuma satu, Ajul doang, selain dia, nggak ada (kecuali teman-teman kantor tentunya).

Saya belum bawa motor saat itu, nggak tau arah ke mana buat ke mana. Apa-apa pasti tanya sana-sini, pokoknya nggak tau apa-apalah. Hingga perlahan demi perlahan, teman saya mulai banyak, saya nekad nyasar dengan motor saya untuk tau jalanan Bandung. Saya tau kalau mau beli ini harus ke mana, kalau butuh itu harus gimana, saya pun mengembangkan komunitas dan bisnis, makin banyak lah teman yang saya kenal. Untuk semua itu, saya perlu waktu 4 tahun, saya membentuk kenyamanan dengan cara saya sediri hingga menjadikan Bandung sangat nyaman dan enggan untuk meninggalkan kota ini. Terlebih saat itu terbesit dalam pikiran saya untuk tinggal selamanya di Bandung.

Namun, itu semua kudu berubah saat ini. Saya sekarang di Jakarta, mengulang masa-masa itu kembali. Dan entah kenapa sebelum memantapkan diri pindah di Jakarta, saya merasa super galau memikirkan masalah ini. Saya nggak tau karena apa, saya merasa ini hal yang berat, bahkan sangat berat. Padahal saya di Jakarta lebih punya banyak teman dibanding dengan waktu pertama saya pindah di Bandung.

Comfort Zone Area

Saya sangat nyaman dengan aktivitas saya sehai-hari, lingkungan saya, teman-teman saya, hingga pekerjaan saya sebelumnya. Namun sebuah tuntutan dan keinginan untuk mencapai target dan impian saya mau tak mau harus mengorbankan kenyamanan saya itu sendiri. Saya harus meninggalkan teman-teman saya, komunitas, lingkungan dan pekerjaan. Jadi di sini seolah saya mendengar encore dari suatu tempat, “kawiiiin San, kawiiinnnn…. Sudah tua”

Jujur, saat-saat paling dramatis justru saat saya bilang ke atasan saya sebelumnya kalau saya mau resign. Saya nggak bisa basa-basi alias ngomong ngalor-ngidul untuk intro dengan pengunduran diri saya karena susah mulut saya untuk bicara gini, saking tegangnya. Tak disangka, perkataan atasan saya waktu itu justu membuat saya merasa sangat diapresiasi begitu besarnya, ini belum pernah saya dengar sebelumnya selama 1,5 tahun ke belakang. Mungkin atasan saya sangat menyayangkan keputusan saya, namun beliau tidak bisa mencegah keinginan saya.

Saat-saat dramatis berikutnya ketika hari terakhir saya kerja, waktu itu saya hanya bisa menguatkan diri saya, tahan San, tahan San, kalau nggak ditahan mungkin sudah tumpah air mata saya. Apalagi saat itu satu persatu teman-teman saya menyampaikan harapannya, “Saya harap hari Senin besok mas Hasan ke kantor, absen, hari Selasa juga, Rabu juga, Kamis dan begitu seterusnya” Itu salah satunya dan saya harus mengambil tissue mengusap air mata, saya bener-bener nggak suka perpisahan!

Well, akhirnya saya sudah memutuskan dengan bulat. Dengan berat hati, saya meninggalkan Bandung yang bersejarah bagi kehidupan saya. Ini karena Awal-awal mungkin saya merasa homesick, mungkin saya belum kenal lingkungan saya, mungkin saya belum tau jalanan di Jakarta, mungkin saya nggak tau kalau ini itu harus ke mana atau ada factor X lain yang membuat saya sangat berat meninggalkan Bandung.

Senasib dengan Oshi

Oke point ini boleh diskip saja ya. Ini tentang Shinta Naomi JKT48 yang harus melepas team K3-nya, menyerahkan kepemimpinannya kepada rekannya, Kinal. Tak hanya lengser, Naomi juga pindah team, dan sekali lagi bukan lagi menjadi Kapten, tetapi anggota di team baru-nya. Naomi mengakui ini hal berat baginya, namun harus bagaimana lagi, dia harus menjalankan keputusan JOT ini. Ini bisa jadi serupa dengan saya ya? Oke, ini diskip saja ya

Titik Cerah

Ibu sudah mengetahui hal ini, saya bilang kepada ibu ketika hari raya lebaran waktu itu. Ibu tidak mempermasalahkan hal ini, yang penting baik bagi saya. Yang ibu saya khawatirkan justru alasan saya keluar kantor sebelumnya karena konflik, tapi Alhamdulillah bukan itu. Hubungan saya sama teman-teman saya dan boss saya di kantor-kantor saya sebelumnya sangat baik. Restu ibu sudah didapat, lantas apalagi yang saya ragukan?

Kalau kata Om Allan, ayah Raisa yang waktu itu bilang pada saya, “Kerja itu tujuannya ada dua, kalau nggak cari ilmu ya cari uang, sekarang tinggal kamu pilih mana,” Saya tau filosofis dari pesan Om Allan, kita tidak harus dipusingkan dengan kondisi luar lingkungan pekerjaan kita, yang penting do the best, niat ibadah lillahi ta’ala. Saya juga heran entah kenapa sampai saya bisa menceritakan semuanya kepada Om Allan, waktu itu pas puasa juga saya bercerita tentang rencana kepindahan saya ini, beliau hanya bilang Alhamdulillah.

Saya tau ini semua pasti akan terjadi pada siapapun, umur berapapun. Semua orang pasti suatu saat harus keluar dari comfort zone, entah dalam hal yang bagaimana. Semuanya memang harus perlahan berubah, mengikuti jalan takdirNya, kita menjalani saja. Saya tau, Allah mengantarkanku sampai di sini untuk satu alasan yang jawabannya saya akan ketahui nanti setelah saya menjalaninya.

Saya nggak tau di sini sampai kapan, 3 bulan, 6 bulan, 1 tahun, 2 tahun atau bahkan selamanya? Yang jelas prinsip saya, ketika saya lelah saya harus bertahan satu hari lagi, satu hari lagi dan begitu seterusnya. Meminjam lirik lagu JKT48 yang Shonichi, “Impian ada di tengah peluh, bagai bunga yang mekar secara perlahan, usaha keras itu tak akan mengkhianati”

Doakan saya ya,…..





Liburan Seru ke TSB Bersama @IndosatJabar #iHappyFriday

1 07 2012

Selamat datang bulan Juli, bulan ini adalah bulan paling saya nantikan sepanjang tahun, semoga pengalaman saya di akhir bulan Juni ini membawa Juli yang penuh keberuntungan, amien…Postingan ini adalah awal cerita dari liburan saya, sebenarnya sih prosesnya sudah dimulai tanggal 22 Juni kemarin, di mana saya ke GOR Ctra Arena, Cikutra. Di sana lihat Raisa, dan alhamdulillah bisa ke backstage dan bersilaturahim sama Tante Ria Allan, ibunda Raisa, heheee… Awal cerita postingan saya ini diawali dari sebuah Twitter @IndosatJabar tentang kusi mingguan seperti yang saya capture dari Twitter-nya berikut ini

Twitter @IndosatJabar

Twitter @IndosatJabar

Karena itu hari Jumat, dan besoknya Sabtu (weeken libur, red) saya pun bela-belain buat begadang sampai jam 3 dini hari buat ngetwit tentang apa yang dimauin Indosat Jabar. Saya untung-untungan saja, ngetwit sebanyak-banyaknya entah kalau diunfollow followerku gara2 spam saya gak peduli karena itu sudah resiko bagi saya. Tapi nyatanya teh, salah satu follower/following saya juga ikutan, namanya Panji, saya kenal Panji di Twitter karena sama-sama fans Raisa, dulu pernah ketemu di Metro Indah Mall Bandung, tapi masih sama-sama gak tau.

Setelah jam 3 dini hari ngetwit, besoknya bangun jam 8 pagi, lanjut ngetwit tentang itu lagi, namun tak sebanyak yang semalam dan akhirnya singkat cerita, saya menang dan berhasil liburan bareng bersama Indosat Jabar, bersama 11 pemenang lainnya, termasuk si Panji itu. Kita ber-12 akhirnya bertemu di Trans Studio Bandung jam setengah 3 sore, Sabtu 30 Juni kemarin.

Tiket Transtudio

Tiket Transtudio

Peserta Liburan Seru bersama @IndosatJabar

Peserta Liburan Seru bersama @IndosatJabar

Perjalanan dari tempat saya ke TransStudio Bandung sangat dekat, hanya butuh waktu 5 menit naik angkot atau 3 menit naik motor dan 15 menit kalau jalan kaki. Kebetulan pada saat itu Pak SBY ada di Trnas Hotel, meresmikan pergantian nama dari Bandung Super Mall menjadi Trans Studio Mall, jadi macet-cet maceeet banget… Di sekitar sana ada banyak polisi, pintu masuk yanga walnya di situ dialihkan ke pintu keluar parkit mobil, jadi agak ribet. Beruntung di sana juga ketemu si Panji tadi, jadi lebih mudah mencari pemenang dan Team Indosat lain, langsung dah menuju Coffee Bean lantai 2 dan di situ saya bertemu dengan teman-teman pemenang yang lain, seperti Didi dari Kircon, Dimas, satu lagi cewek entah siapa namanya, dan juga team Indosat, mas Handy dan mas Indra.

Namanya saja musim liburan ya, jadi TransStudio nya rame banget, apalagi saat itu ada Pak SBY, sedikit ada penyambutan khusus dari pihak TransStudionya sendiri. Bahkan katanya setelah Pak SBY masuk, 4000 pengunjung TransStudio gak boleh masuk alias dipending dulu. Duh ribet nulisnya panjang, Transstudio, disingkat TSB saja ya ntar…

Penyambutan Pak SBY by TSB

Penyambutan Pak SBY by TSB

Dari 12 orang, kita pun masuk berbarengan, tapi ada yang pisah sih… saya mah bareng2 saja rame2, saya, Didi, Panji, Dimas, cewek berbaju kuning dan team Indosat Jabar. Ke semuanya penuh, jadi wahana yang kami cari adalah yang sepi, yakni Vertical apa gitu saya lupa. Wahana pertama ini dari 7 yang bareng, mas Handi dan Didi gak ikut, takut ceunah, hahahaa… ya sudah akhirnya saya, panji, dimas, cewek baju kuning dan mas indra yang naik. Nah, pas naik itu entah kenapa deg-degan, tapi deg-degannya itu ilang pas ngantri, jadi pas detik-detik wahana permainan itu diombang-ambingkan udah ilang,

Waktu mesin diombang-ambingkan ke atas, muter tuh rasanya badan kayak dilempar tapi nggak jadi, trus dilempar lagi, nggak jadi lagi, diputer-puter, diombang-ambingkan lah pokoknya, pusing sih enggak, takut juga engak, cuman asyik saja, Saya teriak-teriak bukan karena takut, tapi lebih ke rasa kereeen, eh tapi takutnya juga ada sih, kadang teriaknya juga ngomong misuh-misuh dan an*ng gitu seperti kebiasaan saya sehari-hari 😛 apalagi si Panji yang sebelah saya, wah dia mah juga anjng-anjng teriaknya, hahaaaa

Wahana Permaianan Pertama

Wahana Permaianan Pertama

Kereeen.. dan sejak itu saya dan yang lainnya hanya akan naik permainan yang seperti itu, bukan seperti komedi putar atau perahu-perahuan, hahaaa iyalah, kalau kayak gitu gak ada bedanya sama Odong-Odong. Lanjut ke wahana permainan kedua, yakni Giant Swing. Kurang lebih permainan ini tak kalah memacu adrenalin, badan yang diombang-ambingkan, diouter-puter, pokoknya diperlakukan secara tidak manusiawi, tapi justru itulah yang menjadi sensasi tersendiri. Antrinya cukup lama sih, herannya sih si teteh-teteh penjaganya itu kok cantik-cantik, kakinya euy mulus, entah pake stocking atau kaki asli. Wahana permainan kali ini saya berpasangan dengan Dimas, sementara si Panji dan Cewek berbaju kuning udah duluan sebelum saya, si Didi lagi2 gak ikut karena takut, dan team Indosat kepisah.

Giant Swing

Giant Swing

Dari Giant Swing kemudian menuju rumah Science, pertanyaan saya apakah para penjaganya ngerti konsep praktikum / alat peraga dengan sempurna? mereke lulusan apa? Toh setelah saya tanya terutama yang Fisika, mereka hanya tau cara mengerjakan alat, bukan secara konsep. Hhmmm… rasanya pengen sekali debat menyoal bandul terkait konsep getaran, atau magnet dan yang lainnya yang Fisika itu, hahahaaa, maklum kuliah saya di Fisika. Lalu menuju Negeri Raksasa, cuman karena antrinya sangat lama, akhirnya gak jadi, lalu bikin video testimoni dah satu persatu, trus lanjut ke special effect, tapi lagi-lagi kurang beruntung karena sudah penuh dan gak bisa menampung lagi. Akhirnya menuju Dunia Lain, wah suasana berubah dah, yang awalnya bersenang-senang menjadi sedikit lebih menegangkan. Pas masuk Dunia Lain langsung disambut oleh penjaga yang berjubah ala Dementor di film Harry Potter. Nuansa mistis udah terasa saat masuk antrian. Di bagian luar, suasana masih terlihat remang-remang, pengunjung disambut dengan 2 layar LCD yang menampilkan kuis pilihan ganda, tentu dengan pertanyaan-pertanyaan seputar hantu dengan pilihan ganda. Pas masuk pintu seperti gua, nuansa mendadak gelap, pengunjung kemudian berjalan naik lift dan beberapa tangga. Di kiri kanan, terlihat juga foto-foto hantu yang membuat bulu kuduk berdiri, sebenarnya sih gak serem-serem amat sih, cuman ya gitu dah.

Dunia Lain TSB

Dunia Lain TSB

Salah satu pigura di Dunia Lain

Salah satu pigura di Dunia Lain

Di dunia lain, team di bagi 2 dengan tiga orang, saya bareng dimas dan cewek berbaju kuning, kemudian ada panji, mas indra dan mas handi, si Didi nya udah pulang. Kami naik kereta berempat, tapi naik bertiga, saya di depan, si Dimas dan cewek berbaju kuning di belakang saling berangkulan. Jujur masuk nggak ada perasaan merinding atau takut sama sekali, cuman saya suka kaget saja kalau gimana-gimana. Puncak merinding yang bener2 merinding ketika masuk ruangan yang ditata seperti rumah sakit, kelambu putih yang kena angin dan beterbangan dan setelah diintip kemudian ada suster ngesot, kemudian hening sepi dan ada pohon beneran dengan diameter batang yang lebar danakar-akar yang menjulang, sebelahnya ada rumah dan mobil ambulance, suasana di sini mistis banget, entah di dalam ambulance itu ada apa, saya gak mau ngelihat.

Setelah dari Dunia Lain, ini mah yang saya tunggu-tunggu sejak awal dan saya inginkan naik sejak lama sekali. Kalau kamu pernah ke BSM pasti pernah ngelihat ada semacam roller coaster yang menjulang tinggi hingga ke puncak, nah itulah permainan yang saya maksud. Saya naik ini, dan saya sangat suka sekali, hanya 40 detik, cuman seru, kereeen dah pokoknya. Pas mau ke puncak, kita kayak mau menuju langit, namun tiba-tiba tubuh rasanya seperti dihempaskan ke belakang dan selesai, bener2 klimaks yang keren…!!!

Lupa nama permainannya

Lupa nama permainannya

Pokoknya mah yang ini

Pokoknya mah yang ini

Ya, walaupun hanya beberapa wahana saja, namun selesai jam setengah 9 malam, antrinya itu yang lama, coba dapat VIP Access ya, mungkin udah semua dicobain 😛 Secara umum saya puas dengan liburan bersama Indosat kali ini, seneneeeeeng, hidup di Bandung setahun baru kali ini ke TSB, awalnya cuman ke BSM doang, nonton ke XXI di sana pasti gak pernah tidak kedengar suara histeris permainan di atas, dan alhamdulillah berkat Indosat keinginan saya ini terwujud dengan cara yang tak teduga,

Saya pakai Indosat sejak saya punya HP, lalu pindah ke operator lain, dan sejak tahun 2004 sudah ganti Indosat lagi dan memakainya sampe sekarang dan nomor pun gak pernah ganti. Puasnya alau ada trouble cepet sembuhnya, jadi gak ganggu banget, tarifnya pun murah, banyak bonusnya lagi, apalagi saat ini ada promo GRATIS Nelpon hingga 3 Hari 3 Malam setelah melakukan isi ulang. Gratis Nelpon 100-500  menit dan bonus SMS yang melimpah ruah. Untuk mendapatkan GRATIS NELPON tersebut pelanggan cukup melakukan 1 kali registrasi dengan cara tekan *123*1*1# atau melalui SMS dengan cara ketik GRATIS kirim ke 123 (tarif gratis). Dan untuk melakukan cek bonus tekan *555*3#. Simak selengkapnya di sini untuk keterngan promo ini lebih lanjut.

Dan jangan lupa buat kamu yang berada di Jawa Barat dan pengguna Indosat untuk follow akun @IndosatJabar, pantengin terus timeline-nya dan dapatkan info serta hadiah menarik, saya sendiri sudah pernah menang 2 kali lho, satu dapat pulsa waktu event Lady Gaga dan satu lagi menang tiket ke TSB, asik kan?